Kalian Akan Tahu, Jika Sudah Turun Langsung

 

freepik.com


Sudah ada tiga bagian tulisan yang menjelaskan mengenai nungguk toko, yang terakhir sudah kuberi label #tamat. Nyatanya, membahas hal yang berhubungan dengan toko itu tidak ada habisnya. Sebagai anak yang bisa disebut nurut sama orang tua ya kalau ada maunya hehe nungguk tok menjadi hal yang tidak terpisahkan dalam keseharian. Karena toko dikelola keluarga jadi mau tidak mau, harus kerjasama. 

 

Karena sejak kecil sudah diajari untuk diibatkan jadi cukup mengerti bagaimana trik melayani pembeli, bagaimana mengatur stok barang, alhasil sudah bisa dilbilang cukup mahir lah hehe. Aku bersyukur telahir di keluarga yang memulai pekerjaan dari nol dan akupun dilibatkan didalamnya, sehingga aku tidak serta merta hanya merasakan enaknya saja. Berikut beberapa hal yang harus kamu terima kalau orang tua memiliki toko.

 

freepik.com


Menyendiri. Pada akhirnya ketika, keluarga adalah segalanya, bukan teman. Apalagi jika sumber utama dalam keluarga kalian itu adalah  berjualan entah itu dalam skala kecil atau besar. Jadi ingat omongan seseorang jika kamu ingin menjadi manager yang handal maka kamu harus terjun langsung mengelolanya dari bawah. Sesorang tidak bisa paham atau mengerti hanya dalam sekejap, perlu waktu dan proses. Nungguk toko milik orang tua juga termasuk usaha kelak suatu saat nanti kamu akan berinisiatif membukan usaha sendiri, sudah memiliki gambaran berjalan seperi apa.

Baca juga: Nungguk Toko the series #Tamat

Dan salah satu resikonya, kalian akan mengurangi waktu kebersamaan dengan teman bahkan bisa kehilangan hanya untuk jaga toko orang tua. benefit memang lebih banyak jaga toko, kadang iming-iming hangout bareng lebih menggairahkan tapi kalau dipikir lagi kehidupan esok juga butuh modal.


 

freepik.com


Siap dipandang sebelah mata. Maksudnya selalu dianggap pelayan, karena sebagian pembeli merasa dia adalah raja artinya harus siap melayani pembeli dengan sikap dari A sampai Z. Selalu mendapai penilaian bahwa pekerjaan menjuali orang adalah pekerjaan tak layak, karena juga disebut pelayan. Sabar sabar, sukses itu tidak bisa langsung tebang ke lantai tinggi. Apalagi jika usaha orang tuamu atau milikmu sendiri sedang di tahap awal, akan terasa sekali cibiran, komentar terus mendarat di  telinga kalian. Tenang, yang mereka lihat dari usaha awal kalian adalah ah masih baru, laku jualannya? Jualan apa sih? Lakunya berapa emang?. Netijen maha ingin mengetahui segala yang bukan miliknya memang, tetap pandai menjaga stabilitas hati aja hehe.

 

freepik.com


Kalian akan mengerti, tentang hidup. Kalau kalian menjaga toko kalian sendiri, banyak ditemukan pengalaman hidup yang tidak diajarkan orangtua maupun sekolah misalnya ada ibu dan anak sekitar umur 6 tahun membeli jajan, sang anak diberikan kebebasan memilih jajan yang dia suka oleh ibunya, setelah di total jumlahnya adalaha Rp. 15.000. sedangkan contoh yang kedua adalah pembeli ini juga anak-anak, kakak-beradik tiap dia beli jajan dia membawa uang 2000, ketika si adik memilih jajan masih juga diatur kakaknya, tidak boleh jajan yang harga 1000 karena nanti hanya dapat 1 jajan. Kakaknya selalu memilihkan jajan yang haganya 500 an dan jajan kedua anak tersebut harus sama biar tidak berebut. Bahkan kadang karena jajan yang diingkan adik tidak disetuji kakaknya, pecah deh tangisan di toko orang hadeh. 

Dari kejadian nyata diatas saya mulai mengerti, seseorang telahir di keluarga beraneka ragam ada yang mampu, kurang bahkan tidak terurus di keluarganya. Dalam hal materi terutama uang, menunjukkan derajat kesenangan dan kemampuan seseorang itu berbeda tidak boleh disamakan. Ada yang senang walau hanya jajan Rp. 2000 saja, ada yang bahagia jajan bisa sampai RP. 10.000.

 

freepik.com


Siap menerima kalimat hinaan. Karena usaha orang tuaku adalah jualan sembako sekaligus jajan anak-anak, tentu jajan yang dijual bermacam-macam dan unik. Perlu diketahui kelontong berbeda dengan minimarket yang tempanya cukup luas. Ketika datang pembeli di toko kecill, tentu penjual harus sigap mengawasi, siapa tahu pembeli membutuhkan bantuan, siapa tahu pembeli menanyakan harga untuk mencocokkan uang di kantongnya, karena secara pribadi mengambil kesimpulan tidak semua pembeli kadar kejujuran yang sama.

 Kalimat hinaan akan muncul disaat si Ibu mendampingi anaknya beli jajan di toko, si anak ingin permen coklat payung sambil nunjuk, si Ibu langsung bertindak

Baca juga: Beberapa Adegan Yang Akan Kamu Saksikan Saat berjualan!

“Jangan itu, kamu kan habis batuk, nanti kumat lagi!”. Ibunya langsung gercep memilihkan jajan yang lain biar si anak tidak jadi menginginkan permen coklat itu. Mulai deh dramanya

Nangis-nangis kepiyer si anak, sebagai orang tua tentu aku mengerti bahwa pasti menginginkan yang terbaik untuk anaknya. Misal lagi, si anak ingin susu sebut merek ultra milk kemasan tanggung ukuran 200 ml, si Ibu bertindak

“Jangan jangan! kamu kan sudah punya susu di rumah”. Pintu lemari es langsung ditutup.

Terus si anak menunjuk teh kemasan, si Ibu gerak cepat

“Jangan-jangan, nanti batuk”. Pintu lemari es langsung ditutup

hati kecilku ikut berkomentar, emang sih minuman kemasan nggak ada yang baik tapi....

kembali si Ibu menarik anaknya agar menjauhi lemari es, tidak berhenti disitu si anak malah ingin membeli mainan telur-teluran yang berhadiah. Kembali ibunya gerak cepat

“Aduh adek, buat apa sih mainan kayak gitu, beli jajan aja lah”. Telur-teluran itu dikembalikan di sembarang tempat.

Hati kecilku ngoceh lagi, mbok ya ditaruh di tempat semula gitu loh bu, kan biar saya nggak kerja dua kali susah amat sih.

Dan setelah percekcokan anak dan Ibu, jajan yang dibeli adalah yupi 500 an jumlah 4 totalnya Rp. 2.000. Nah kan! Drama banget.

Dari contoh diatas, ada beberapa indikasi yang perlu kalian ketahui

  • Ibu menolak membelikan susu bisa jadi uangnya tidak cukup karena setelah dari toko ini harus ada yang dibeli lagi di toko lain. Tapi malah si anak dibohongi.
  • Ibu menolak beli mainan, bisa jadi karena mainan tidak membuat si anak kenyang perutnya lebih baik beli jajan.
  • Ibu menolak membelikan teh kemasan, bisa jadi karena harganya kemahalan 3.000 rupiah mending dibelikan jajan justru dapat 6 yang seharga Rp. 500 atau sayang dong beli teh aja harus rogoh kocek 3.000 rupiah. 
  • Kalau sudah sepakat mengajak anak beli jajan di toko langsung, si ibu harus sudah siap dengan segala keadaan yang terjadi. Dan sebaiknya si Ibu membuat komitmen atau perjanjian dengan anak tentang uang yang dibawa disesuaikan dengan jajan yang dibeli, meminimalisir drama di toko orang lain.

Kembali berbicara derajat kemampuan dan kesenangan seseorang itu berbeda, dan sebagai penjual pun tidak bisa ikut campur banyak mengenai hal itu. karena mereka yang berjualan juga untuk memenuhi kebutuan hidup, asalkan barang yang dijual halal ya oke.

Sebagai orang yang jagain warung, menghadapai pembeli seperti diatas bisa jadi cerminan diri sendiri di waktu sebelumnya atau sebagai ladang pahala kelak nanti😋

Share this:

ABOUT THE AUTHOR

Hello We are OddThemes, Our name came from the fact that we are UNIQUE. We specialize in designing premium looking fully customizable highly responsive blogger templates. We at OddThemes do carry a philosophy that: Nothing Is Impossible

0 Comments:

Posting Komentar