Tags

[recent]

Recent Post

3/recentposts

Yuk Mulai Hidup Sederhana!

Posting Komentar

“Kasih Ibu sepanjang masa” pepatah itu rasanya benar sekali tidak bisa dibantah. Seorang Ibu adalah sosok perempuan tangguh bertulang baja dan hatinya sebagus emas. Dengan senang, susah merawat anaknya agar bisa bertahan hidup, tidak rela jika anaknya sakit atau tergores sedikit pun. Lebih dari itu tugas ibu termasuk dalam mendidik buah hatinya, membentuk karakter kepribadian baik agar bisa diterima dalam masyarakat kelak nantinya bisa memberi manfaat bagi agama dan bangsanya. Tiap keluarga tentu memiliki didikan yang beraneka ragam tergantung dari siapa yang mendidik, bagaimana mendidik?, sampai bagaimana lingkungan ikut mempengaruhi didikan Ibu?. Nah kali ini ku akan sharing ke kalian beberapa kebiasaan yang diterapkan dalam lingkungan keluargaku sedari aku masih kecil.



No tisu. Menggunakan kain serbet (pakaian yang sudah tidak layak dipakai) untuk me-lap tangan, kaki bahkan ingus pun juga. Selain itu dirumah pun tidak disediakan tisu. Masih ingat betul saat masih Sekolah Dasar kondisi badan sedang flu berat, Ibu tidak lupa menyiapkan sapu tangan sebagai senjata jika ingus tidak bisa dikondisikan disaat yang tepat. 

Tisu kita gunakan jika bepergian saja, karena dianggap praktis. Dan ketika dirumah, kembali menggunakan serbet sebagai pembersih kotoran serba guna. Satu keluarga kami ada 4 member, dan semuanya tidak menggunakan tisu saat dirumah. Aneh? Iya menurut saya, sepengelamanku saat bertamu ke rumah seseorang. Benda yang tersaji diatas meja ruang tamu yang namanya TISU tidak pernah absen hadir diantara kumpulan makanan yang disajikan. Misalkan kita disajikan gorengan bakwan, pisang goreng dan teman-temannya sebagai pembersihnya adalah tisu lagi dan lagi. Nah di keluarga kami baik untuk kepentingan sendiri atau kepentingan banyak orang kain serbet is always. Kain serbet yang digunakan saat dirumah kain bekas pakaian yang sudah tidak terpakai lagi. Misalnya waktu itu dirumah sedang diadakan khotmil quran otomatis banyak suguhan jajan, baik jajan kering maupun yang berminyak. Jika ada acara dirumah seperti diatas khotmil quran yang digunakan serbet kain yang memiliki corak kotak-kotak garis hitam, sebagai bentuk menghargai tamu tapi tetap tidak menggunakan tisu. 

Di keluarga tisu bukan hal yang harus ada disudut ruang tamu, karena lebih senang menggunakan kain serbet, walaupun harus ribet selesai digunakan jelas kotor . Waktu itu masih belum paham kenapa ibu selalu memakai kain serbet untuk membersihkan tangan sehabis makan, atau saat membersihkan benda-benda. Dulu juga belum terlau menggema anjuran sayangi lingkungan hidup dengan kurangi penggunaan platik dan tisu. Eh sekarang ku mulai mengerti apa manfaatnya jika kita memilih menggunakan kain serbet daripada tisu, 1) hemat uang bisa dihitung jika dalam 2 minggu menghabiskan tisu 1 pak seharga 9000/rupiah dikalikan dalam sebulan Rp. 18.000 dikalikan satu tahun total Rp. 216.000 lumayan juga waktu yang dikelurkan untuk penggunaan tisu saja, 2) kain serbet berasal dari pakaian yang sudah tidak layak pakai tetap bisa dimanfaatkan kembali kegunaannya kecuali untuk kalangan banyak tetap menggunakan serbet yang sepantasnya bukan kain serbet bekas pakai yang sudah tidak terpakai lagi, sebagai cara menghormati orang lain, 3) untuk khalayak banyak bisa menggunakan serbet yang bercorak, ada yang masih ingat pembungkus berkat jaman dulu setelah genduren[1]. Walaupun menggunakan kain serbet sebagai lap member keluarga tidak ada yang keberatan, harus mencuci kain serbetnya.


Suka makanan rumah. Makanan semahal apapun tetap kalah lezatnya jika dibandingkan dengan masakan ibu dirumah. Yang setuju angkat tangan dikomentar. Walaupun lauknya tahu tempe dan sambel ikan asin plus kemangi ditemani nasi hangat hadehh endes polll. Menyukai makanan rumah, entah kenapa saat makan bareng teman diluar selalu keinget dirumah ibu masak apa ya? ibu sudah makan apa belum?. Sering itu ada kegiatan dari pagi sampai sore, nah kan dikasih nasi kotak harusnya dimakan disana. Tak bawa pulang biar dimakan orang rumah, nah saya nya makan masakan rumah. 

Inget banget pas bulan Romadhon Ayah kerjanya sip sore, pas buka nggak dirumah jelasnya. Eh pas maghrib pulang kerumah sebentar dengan alasan tip-x nya ketinggalan, kata  Ibu “itu alasan saja, aslinya ingin makan dirumah” saat ayah udah balik ke pabrik. Contoh lain Ibu kami secara tidak langsung mengajari kami untuk menyukai masakan rumah dengan tidak memberikan makanan instan seperti KC, MCD, Hisana, Pizza dll makanan instan lainnya. Sekalipun tidak ada lauk tersaji Ibu tidak akan membelikan kami makanan instan yang ku contohkan diatas. Ibu bakal meracik bahan-bahan seadanya yang ada dalam kulkas untuk disulap jadi makanan hangat. 

Mau pas kondisi laper belum makan karena ibu belum masak, dengan terpaksa dan capek ibu mau masak buka. Makanan udah siap santap bisa dipastikan lauk dipiring yang full tadi bisa ludes dalam sekejap kadang hanya tertinggal 1-2 lauk saja hehe.


Berusaha menepati janji dan tidak berhutang. Berusaha menepati janji salah satunya dengan cara mengembalikan benda milik orang lain misalnya saya diberi makanan tetanggga yang dibungkus dengan rantang tanpa diingatkan orang yang diberi. Ibu selalu mengajari kami jika diberi makanan diwadah segera dipindah, dan wadahnya segera dicuci bersih langsung dikembalikan tanpa ditunda-tunda “inget itu barang milik orang lain, secepatnya dikembalikan jangan menunggu ditagih baru barang dikembalikan ke pemiliknya, jangan sampai orang tersebut mencabut keikhlasan memberi karena kita lalai dalam menjamin kewajiban kita sebagai orang yang diberi”.  

Tidak berhutang, menggunakan uang seadanya tidak ada uang yang tidak boleh berkeinginan harus ditunda dulu. Contoh setiap hari minggu Ibu pergi ke pasar untuk membeli barang dagangan sekaligus belanja keperluan rumah jika uangnya tidak cukup ibu lebih baik tidak jadi membeli daripada berhutang karena uangnya tidak cukup padahal orang yang jualan tersebut sudah membolehkan ibu membayarnya jika membeli di lain hari. Bagi Ibu saya lebih baik  makan dengan uang seadanya, jika sewaktu-waktu nanti ibu meninggal dan masih memiliki hutang  yang tidak diketahui oleh ahli waris sekalipun itu anaknya tetap saja yang menanggung dosa Ibu sendiri. Belajar memegang perkataannya sendiri, jika dalam kondisi terdesak misalnya beli sayur lodeh dan pepes tongkol total nya Rp. 8000 uang yang disodorkan 10.000 tapi pembeli tidak ada kembalian.

“Nggak ada uang pas nak?”.

“Ndak ada Bu, adanya cuma Rp. 7000 saja”.

“Yawes itu saja nggak apa, berarti sampean kurang 1000 ya”.

Jelas jika kalian ada di posisi itu kalian pasti akan bilang “Iya bu, habis ini saya langsung kembali”. Ku jamin kalian pasti mengucap kalimat itu.

Untuk menjaga kepercayaan orang lain, meskpin kekurangan kita hanya bernominal 1000 ditambah sudah bilang “sebentar” jelas itu namanya janji. Harusnya segera dikembalikan setelah sampai rumah. Jangan sampai pas sudah sampai rumah “ah besok-besok aja deh pas beli lagi” ku jamin 1001 orang yang inget dengan hutangnya sendiri. 

kata Ibu “Jangan sampai meminjam uang di rentenir keliling itu, ibu paling tidak suka lebih baih hidup dengan seadanya, kurangi jajan yang tidak penting harus gemi dalam memiliki uang agar hidupnya tidak terlunta-terlunta esok nanti, karena untuk masalah uang sulit sekali minta bantuan pada orang  lain sekalipun itu saudara sedarah sendiri”. 

Hindari meminjam atau meminta barang orang lain. cukupilan kebutuhanmu dengan kemampuan uangmu sendiri, jika memang masih bisa diusahakan sendiri maka berusahalah dengan benda yang masih kalian miliki. Walau hukum meminjami barang adalah mendapat pahala karena sama dengan menolong orang lain. Memberikan bantuan orang lain memang tidaklah salah bagus sekali tapi fenomena saat ini yang sering saya hadapi adalah ketika orang kita tolong dengan meminjami barang kita, dikemudian hari mereka akan mengulangi lagi padahal kita sendiri tahu mereka sebenarnya sudah mampu tapi dengan alasan malas atau eman mereka lebih memilih meminjam. 

Menghindari meminta barang kepada tetangga. Misalnya di depan rumah saya ada daun padan buat kolak, sudah tumbuh besar bahkan melebihi tinggi tubuh saya, letaknya didekat jalan raya yang otomatis sangat terlihat sekali oleh lalu lalang orang. namanya manusia suka khilaf kalau melihat barang yang tidak dimilikinya, 

“Mbak minta daun pandan sedikit saja, buat bikin kolak”.

“Enggeh Mbak, sampean ambil sendiri”.

“Suwon mbak nggh”.

Selesai ambil ku lirik daun pandan yang dibawanya lebih dari 10 lembar daun. Dalam batin yawes tidak apa apa. Eh seminggu kemudian datang lagi orang tersebut, minta lagi padahal sudah dari pasar belanja”. Kok tahu? Di sepedanya banyak belanjaan kresek.

“Mba minta daun pandan lagi, di pasar tak cari kok gak ada yang jual”.

“Hemm” dengan agak males jawabnya. Batinku berkata “ya kali satu pasar nggak ada yang jual daun pandan bilang aja eman buat beli pandan, kalau minta kan gratis banyak pula”. Ya seperti itulah pengen punya tanaman buah atau sayur , menanam sendiri, dirawat sendiri, eh pas sudah berbuah orang lain ramai-ramai memetiknya. Kecuali kalau tanamannya itu bunga, mau berbunga berapapun orang lain juga gak akan meliriknya, karena fungsinya keindahan bukan untuk makanan hehe.

Itulah beberapa hal yang masih kuingat, selebihnya ada yang lupa. Saya bersyukur di didik degan cara-cara diatas, menjadikan saya manusia berani, peduli, dan kadang lupa lautan.


[1] Kegiatan mengaji bersama-sama yang dilakukan di salah satu rumah warga dan pulangnya membawa berkat masing-masing yang berisi makanan.
Reactions
lylamanzila
Assalamua'alaikum Halo saya Alfimanzila Orang asli Sidoarjo Email: lylamanzila97@gmail.com

Related Posts

Posting Komentar