Tags

[recent]

Recent Post

3/recentposts

KKN Gempeng 2018, Pengen Balik lagi?

22 komentar


KKN (Kuliah Kerja Nyata) adalah mata kuliah yang  wajib ditempuh jika menjadi mahasiswa strata S-1 diseluruh Universitas. Program tersebut harus menjadi bukti nyata bahwa mahasiswa sudah menerima berbagai teori di kampus dan harus direalisasikan dalam wujud pengabdian masyarakat. Lokasi KKN di lakukan di Desa-desa yang memerlukan pengembangan dari segi pendidikan, ekonomi, sosial dan budaya, dengan harapan datangnya para mahasiswa ke Desa-desa tersebut akan ada perubahan nyata yang dapat dinikmati warga masyarakat sampai Desa tersebut ditinggalkan para Mahasiswa.

Dikirimnya beberapa mahasiswa ke lokasi-lokasi tempat KKN untuk membuat progam kerja nyata. Program kerja yang direalisasikan harus sudah memiliki kualifikasi yang ditentukan dari kampus dan diawasi oleh DPL (Dosen Pembina Lapangan). Lalu bagaimanakah kisah keseruan KKN yang pernah kujalani selama 1 bulan di tahun lalu tepatnya tahun 2018. Yuk simak keseruannya.



Tim hore KKN GEMPENG 2018

Awal cerita KKN. Sudah menjadi momok para mahasiswa menjelang akhir semester 5 (jika dikampusku) pendaftaran KKN dimulai sekaligus dilaksanakan. KKN dilakukan bukan bersama teman satu kelas, satu prodi apalagi satu fakultas, melainkan satu kampus. Bisa dibayangkan kita tidak akan tahu satu kelompok dengan siapa saja, dari prodi mana dan dari fakultas apa. Semuanya diacak jadi satu, tidak bisa memilih teman. Hanya bisa menebak-nebak saja semoga dapat kelompok yang terbaik. 

Biasanya yang terjadi jika mau mendaftar antar teman akan memilih lokasi Desa yang sama agar tetap ada teman yang dikenal dalam satu kelompok. Hal ini terjadi padaku juga niatan daftar bareng beberapa teman dikelas, pilih Desa juga sama harapannya jika ada kepentingan mendadak misal harus KRS semester 6 bisa sama-sama. 

Manusia memang boleh merencanakan tapi hasil akhir Allah yang menentukan. Dan hal itu pun terjadi pada saya, pengumuman nama kelompok sudah ditempel di depan ruangan LP3IK. Tentu sangat masih berharap satu kelompok sama teman satu kelas. 

“Eh sampean sendiri mba” kata salah satu teman kelasku.

Sebenarnya masih belum mencerna maksud omongan itu, tapi ya sudahlah tetap berfikir positif. Langkah kaki Menuruni anak tangga semakin dipercepat untuk bergegas melihat sendiri namaku masuk di kelompok mana. Kedua bola mata mencari dengan seksama menyusuri lembaran kertas yang menempel dipapan pengumuman. Pandangan sampailah pada kelompok Desa Glanggang, Desa yang kupilih bersama teman-teman secara sepakat. Ternyata hanya namaku seorang yang tidak muncul, keempat nama teman-temanku ada semua satu kelompok. Wadaw keringat dingin dong pastinya, nama ku sendiri teryata ada di desa setelahnya yakni Desa Gempeng di kecamatan Bangil Pasuruan. Disitu tertera namaku dengan jelas dari prodiku hanya aku saja. Mantab sudah tidak ada yang ku kenal, bahkan namanya pun tak pernah mendengar sebelum-sebelumnya. 

Waduh berfikirlah macam-macam. Dari mulai gimana kalo sampai nggak kenal semuanya, gimana makannya nanti, gimana kalo pulang dan gimana gimana yang lainnya. Jelaslah pikirannya macam kita akan tinggal selama satu bulan dengan orang baru, pemikiran baru, tipikal individu berbeda. Curiga akan hal-hal jelek sebelum terjadi jadi perbincangan sebelum perjalanan KKN dimulai.



Mulai mengenal. Setelah ditetapkan jadwal pembekalan KKN-P UMSIDA 2018 tiap kelompok wajib mengikuti pembekalan pada jam 13:00 siang (tanggalnya udah lupa). Setelah pembekalan secara serentak tibalah pembekalan tiap kelompok atau tiap desa di masing-masing ruangan yang sudah ditentukan bersama DPL masing-masing. 

Anggota KKN yang ku kenal pertama adalah Dini mahasiswa jurusan PGPAUD semester 5. Bermula malam sebelum pembekalan dia mengirim pesan singkat lewat Whatsapp untuk mengajak bertemu waktu pembekalan KKN. Kami berdua memasuki  ruangan bersamaan dan mendapati semua anggota lain sudah berkumpul meskipun ada beberapa yang sengaja tidak hadir mengikuti pembekalan. Bu Lailul Rosyidah atau kami memangilnya Bu Ilul itulah DPL kami selama satu bulan nantinya. Beliau juga yang memandu pembekalan kami selama kurang dari 30 menit, dari mulai menentukan Koodinator Desa (KORDES), Wakil, Sekretaris, dan Bendahara sampai teknis survey Desa dan perizinan di Kepala Desa. 


Tempat kami berteduh, bercanda, bertengkar dan menyingkap kenangan satu bulan wkwkwkwk

Awal percekcokan pun dimulai. Setelah mengenalkan diri satu persatu dan bergantian menulis nomer whatasapp pada selembar kertas secara bergiliran sebagai bukti bahwa kita satu tim untuk membuat grup Whatsapp. Sepakat menentukan hari, jam kami akan survei lokasi KKN. Dari pertemuan awal ini sudah terpilihnya 2 manusia sebagai KORDES dan wakil KORDES, pemilihannya pun unik. Karena DPL tersebut Dosen FISIP dan tentu saja yang dikenal juga mahasiswa FISIP jelas yang dipilih menjadi Kordes tentu mahasiwa FISIP. Kedua sosok manusia ini belum memiliki bayangan yakin nggak sih bisa mimpin tapi ya sudah lah. 

Perjalanan survey lokasi dibagi menjadi dua titik. Pertama, mereka yang berangkat dari arah SBY, kedua mereka yang sudah stand by dilokasi KKN karena sudah mengetahui lokasi lebih dulu. Dari perjalanan awal ini sudah ada miss persepsi dimana Kordes kurang koordinasi dengan anggota di grup. Dikarenakan juga survey lokasi ini juga dibarengkan dengan DPL desa Glanggang pilihanku sebenarnya perjalanan pun molor dari target waktu yang sudah ditentukan. Padahal sebagian dari teman sudah berkumpul di kantor balai Desa Gempeng. 

Survey bersama DPL telah usai, beralih mencari kontrakan untuk tempat tinggal kami untuk sebulan kedepan. Dari mulai tanya ibu-ibu paru baya dipinggir jalan ditunjukkan rumah semacam kos-kosan tapi ada dilantai 2 itupun juga kurang leluasa kalau berkumpul untuk rapat. Beralih menemukan rumah, baru selesai dibangun masih kosongan semua tanpa isi perabotan itupun juga masih remang-remang ragu udah dibancai apa belum ya.  terakhir diantarkan seorang ibu lagi ke rumah yang memang biasanya dibuat tempat tinggal mahasiswa selama KKN sebelum-sebelumnya. 

Menentukan tempat tinggal untuk orang banyak memang tidaklah mudah, ada yang bilang ya, tidak, terserah, sak karepmu. Hal ini pun terjadi bolak balik dari kontrakan satu ke kontrakan kedua hanya untuk memastikan harga dan kenyamanan. Tepat di kontrakan kedua ada sebagian setuju.

“Wes gak atek suwe iki ae enak leluasa gawe rapat” salah anggota berpendapat

“Ojo rek iki loh omah sek anyar kosongan pisan, gak ono perabotan lak kene engko gowo perabotan dewe-dewe” sebagian berpendapat seperti itu.  

Keputusan pun berakhir kami memilih menempati pilihan kontrakan ketiga, disamping kami tinggal satu atap dengan pemilik rumah keamanan bisa dikatakan terjamin. Meskipun ada beberapa yang tidak setuju dengan pilihan ini, apa mau dikata ini jalan terbaik dan demi kenyamanan kelompok kami bersama. Kontrakan ketiga memang tidak seluas kontrakan sebelumnya, yang perempuan tidur beralaskan karpet di ruang tamu sedangkan laki-laki tidur di kos-kosan lantai 2 tempatnya dibelakang. Kami menyebutnya Umi’ pemilih rumah yang kami sewa, beliau baik sekali, waktu itu saya pernah datang ke kontrakan hari ketiga KKN pukul 03:00 dini hari. saya dibukakan pintu dan dibuatkan teh oleh Umi, padahal posisi jam segitu tidur semua.


Mulai bicara proker. Proker untuk kelompok kami tidak dibuat secara sepakat melainkan melibatkan beberapa pihak dari kelompok kami saja. Apalagi saya datangnya tidak dihari pertama, karena memang harus melaksanakan tugas magang II terlebih dahulu. Hasilnya tidak tahu proker kelompoknya apa aja, dihari ke tiga disaat semua udah bercanda saling kenal lebih dekat saya hanya lebih banyak diam karena belum mengenal sama sekali.

Diatara pekerjaan besar kami adalah kegiatan kompos dan hidroponik di sekolah dan di masyarakat dan membantu ukm sepatu bordir. Dari ketigaproker ini tentu masing-masing tugas sudah bisa dipetakan dengan jelas, bila mereka dari jurusan pendidikan dan sosial mereka terjun ke sekolah dan masyarakat. Bila dari jurusan ekonomi mereka terjun ke kewirausahaan.

salah satu UKM di kelurahan Gempeng, bagus-bagus bisa cek di IG @sepatubordirnovaisa


warga berkumpul di rumah bu Lilik
masih sama hidroponik juga, tapi di rumah warga beda (lupa namanya)
 

proses pembuatan pupuk kompos di SMA AL AZIZ

Meskipun sudah ada pembagian tetap kami bisa melakukan bersama-sama. Misalnya hari ini ada kegiatan hidroponik di sekolah SMA AL AZIZ DAN SMA WAHID HASYIM tentu tidak bisa hanya dari anak pendidikan dan sosial. Semua anggota ikut membantu jalannya proker tersebut. 


Caption teryahut hahahaha

Momen hits selama KKN. Jelas ya hidup satu atap bersama teman baru dengan pemikiran barvariasi, kepribadian yang bervariasi tidak semua anak bisa menerima itu dengan mudah. Ada yang kalau tidur ngorok, beda maksud makanan yang dimasak udah marahan, ada yang habis masak langsung pergi nggak ikut mencuci, ada yang suka nyuruh-nyuruh, ada yang tidurnya kayak walang keket, ada yang diem aja kalo dimarahi, ada yang sukanya luluran nggak kenal waktu dan masih banyak lagi, itu versi perempuan, kalau aib laki-laki saya tidak tahu wkwkwk.

Ini nih yang paling sering terjadi kalo KKN tiba, muncul perasaan lebih pada lawan jenis. Ada beberapa teman yang sudah merasakan dirinya bergejolak. Ada juga yang cinta segitiga, ahh seru deh bisa ku terawang ada 4 teman yang menaruh pasangan hihihi. Ada yang cintanya malu-malu diawal akhirnya nggak jadian, ada yang diem-diem menaruh perasaan, ada yang diam-diam menaruh perasaan eh akhir cerita jadian nggak bilang-bilang, ada yang si laki-laki menaruh perasaan tapi perempuannya udah punya pacar. Uhh sakit nih ye.

Itu cerita romantisnya, sedangkan cerita bertengkarnya masih banyak lah tapi tidak perlu diceritakan disini. Intinya pasti sesama anggota ada yang tidak disenangi meskipun sudah minta maaf pun tetap sulit untuk mengembalikan kondisi seperti semula. Perempuan akan lebih sentitif terhadap pertemanan. Ya meski begitu juga ada yang menjadi penetral alias tidak memihak manapun, wal hasil dialah yang harus menetralisir agar masalah segera kelar. Karena tinggal selama sebulan bersama kawan baru bukan sekedar teman melainkan sudah menjadi keluarga. 

Hal ketika kelompok kami terlihat akur adalah saat makan telah tiba yeeee. Kelompok kami menyepakati makan sehari 2x dari senin sampai sabtu. Sabtunya ndak akan ada makanan alias beli makan sendiri-sendiri. Makan pagi tersaji pukul 7-8 an, sedangkan makan malam dimulai ba’da maghrib. Siangnya teman-teman beli makan sendiri jika memang tidak kuat menahan lapar temaan bisanya beli makanan seperti, cilok, pangsit, bakso, atau hal paling sering bikin seblak sendiri. Saat makan inilah suasana kekeluargaan terasa seperti telur rebus baru diangkar dari dandang. Momen dimana disaat ada permasalahan, kebencian, kedongkolan semuanya berbaur menjadi satu untuk menikmati makanan.

Bermula dari ogah-ogahan satu kelompok menjelang akhir satu bulan KKN tepat tanggal 25 Februari 2018 justru muncul keinginan.

“Koyoke KKN kudu 3 bulan sakjane, kurang suwe lek satu bulan”. Kata mama tiara perempuan subur beranak satu dan pandai masak hehehe. KKN ditempat kami bisa dibilang cukup enak dalam hal makanan apalagi ada mama tiara yang siap masak berbagai makanan yang tidak biasa kami masak tiap hari wkwkwkwk. Bila dibandingkan dengan kelompok KKN lain. di kelompok kami sudah ada pembagian jadwal piket masak dan kebersihan tiap hari untuk meminimalisir saling tuduh antar teman.  

Adanya KKN ini sudah seharusnya membawa dampak positif bagi kepribadian, sosial dan terutama akal kami semua. Selama sebulan kami tinggal jauh dari keluarga demi tugas kuliah agar dapat nilai bagus #ehbukanitu untuk mengenal secara langsung kehidupan masyarakat, kondisi pendidikan, ekonomi yang bisa kami katakan memerlukan bantuan pemikiran Mahasiswa eaaaa pencitraaan ya.

Salam silaturahmi ya gaesss

Sidoarjo, 2 Februari 2019

Momen perpisahan bersama warga kelurahan Gempeng


Reactions
lylamanzila
Assalamua'alaikum Halo saya Alfimanzila Orang asli Sidoarjo Email: lylamanzila97@gmail.com

Related Posts

22 komentar

  1. Ceritanya asik mba, boleh kenalan?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Boleh banget kok...minta no wa juga boleh

      Hapus
  2. Liat postingan ini aku jadi kangen sama masa KKN ,😁😁

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ahhhh...masa KKN emang menyenangkan. Pengen balik lagi ya hahahaha

      Hapus
  3. HMM, jadi teringat KKNku juga. Ada beberapa perbedaan. Kalau di kampusku, kita memilih program (KKN Reguler, KKN Kebangsaan, KKN Regional, KKN Tematik, dll), bukan memilih desa. Terus juga di tempatku, kami melapor ke kepala negeri (Wali Nagari untuk di kabupaten atau Lurah untuk di kotamadya, begitu nama kepala daerah di Sumbar), dan kepala daerah itu yg mencarikan posko, bukan kami yg mencari kontrakan. Tapi kudu survei lokasi juga di awal.

    Kalau persamaannya, mungkin untuk suasana, mengerjakan proker, pengalaman, sebelas dua belas lah ya, dengan segala suka dukanya. Tetap akhirnya menjadi pengalaman yang mewarnai hidup.

    Oiya, maaf, ada sedikit koreksi dari aku. Tidak semua Universitas itu punya program KKN loh. Adikku kuliah di sebuah Uni yang enggak ada KKNnya. Apa mungkin faktor Univ swasta? entahlah. (Mungkin satu dari 3 tridarma perguruan tingginya yakni pengabdian sosialnya dilakukan dengan cara lain).

    Salam silahturrahmi :D

    BalasHapus
  4. Wah iyakah saya baru kalo ada kampus yang tidak nyelenggarain KKN...thax more infonya

    BalasHapus
  5. Rasanya sedih ya, sudah akrab satu dg yg lain, hrs berpisah karena sudah selesai masa KKN.

    BalasHapus
  6. Wah seru ya... tapi dulu saya tidak mengalami yang namanya KKN... atau mungkin tergantung jurusan ya... ?

    BalasHapus
  7. Beruntung mbak bisa ngerasain KKN krena kalo univ swasta macam saya ni ga ada KKN. Banyak kerja prakteknya, membantu warga sekitar plus tinggal smma teman teman. Pasti seru yaaa

    BalasHapus
  8. Seru banget bisa ngerasain KKN ke desa-desa gini. Aku malah pengen loh. Aku sih KKN nya ga ampe nginep di desa, aku KKN 40hari di bank malah enak hehe. Pasti deh KKN di desa ini jadi pengalaman yang mengesankan yah mbak

    BalasHapus
  9. KkN emang seruuu, apalagi yg terjun langsung ke masyarakat seperti ini, gak bakalan terlupakan pastinya.
    Eeh tapi Mbak, ada beberapa istilah/singkatan nih yg sy gak ngerti, mungkin bisa di ksh arti gitu ya apa tu Kordes, Proker. Terus yg bahasa daerah jg diartiin doong, biar kita gak roaming, heheh

    BalasHapus
    Balasan
    1. asiappp mba...memang sengaja saya pakai bahasa lokal sidoarjo hehe

      Hapus
  10. Kenapa saya fokus sama kerajinan sepatunya ya? Bagus dan unik kwkwkwk...
    KKN selalu menyimpan cerita. Meski dlu saya nggak KKN, tapi magang kerja sebelum kelulusan, tetap ada cerita yg sama, termasuk ada cerita hati sesama teman 1 kos2an... Salam silaturahmi juga mba

    BalasHapus
  11. KKN emang selalu menjadi kenangan menyenangkan ya, aku dulu juga gitu, biasanya rame sama temen KKN pas balik rumah berasa ada yang hilang

    BalasHapus
  12. Jadi ingat pengalaman KKN saya juga Mbak hehe. Seru ya..pengalaman selama KKN. Banyak kesan yang tak terlupakan. Tinggal bersama dgn teman2 satu kelompok dalam bbrp bulan akan menambah akrab, 0dan tak jarang berlanjut ke jenjang yang lebih😊😊

    BalasHapus
  13. Jadi ingat jaman dulu waktu KKN jadinya pas baca artikel ini. Seneng kalau aku tuh berinteraksi dengan masyarakat. Program kerjapun lgsg mnyentuh kepentingan masyarakat. Keren yak...

    BalasHapus
  14. Huee masih muda sekali 2018 kknny
    Saya 2008 wkkk
    Jadi inget masa2 kkn

    BalasHapus
  15. wah mbak, seru niy. jadi ingat beberapa tahun silam pas KKN, berinteraksi dengan teman-teman baru. awalnya ogah-ogahan eh pas bubar pada kangen-kangenan hehehe

    BalasHapus
  16. Kkn tu seru...awal mula belajar terjun di masyarakat dan belajar adaptasi. Cerita2nya juga heboh dan jadi kenangan yang sayang jika dilupakan..hihi..

    BalasHapus
  17. wuihh seru banget ya KKN nya mba, jadi kangen pengen kuliah lagi hehe. Tua amat guhe yak

    BalasHapus
  18. Seru memang ya pas KKN, disana banyak belajar tentang karakter teman juga mb. Jadi pengen kumpul dengan teman kuliah lagi. Makasih ya mb cerita serunya.

    BalasHapus

Posting Komentar