Tags

[recent]

Recent Post

3/recentposts

Telat Disengaja atau Telat Direncanakan

Posting Komentar


Entah tangan ini gatel  pengen nulis tentang “telat” tentu tidak asing jika menempatkannya pada negara tercinta Indonesia. Kebiasaan suka ngaret alias nunggu-nunggu. Teringat percakapan singkat saat menaiki tangga menuju lantai tiga

“Eh gak telat kah aku?”

“Aku saja telat biasa saja” jawab teman disamping.


“Aku gak biasa telat dadakan , soale kalo telat wes direncanakan dari awal”

Benar apa adanya telat itu ada dua kondisi antara telat disengaja dan telat direncanakan. Kedengarannya mainstream ya. 

Telat disengaja ada pada kondisi diantaranya kamu memang udah tahu janjian jam segitu sengaja telat dengan alasan macet, ban bocor, kehabisan bensin lah padahal dibalik itu ada kerjaan nggak penting yang sedang kamu kerjakan contoh: main gadget, nonton tv, sengaja gak masuk kelas mampir ke kantin dulu, atau pas ngobrol ketemu temen sengaja dilama-lamaian. 

Ya bukan rahasia umum lagi kalau manusia itu tidak akan mau melihat proses orang lain. Jadi yang harus ia tahu adalah hasilnya. Mengena bukan. Wajar lah maka dari itu  membangun citra yang baik itu penting asal jangan cari kepeNtingan demi untuk citra yang baik. 

Sengaja membuat orang lain menunggu itu bikin geregetan kan ya. Apalagi bagi yang pernah ngalami. “kalau tahu gini mending berangkat sendiri aja”. Kata manusia yang sudah jamuran nungguin.

Kesengajaan itu tak sedikit menimbulkan kerugian banyak pihak salah satunya waktu teman kamu yang sudah nungguin jadi berkurang gara-gara hal gak berfaedah. Yaitu nunggu. Hmm iya kalau orangnya sabar pasti ditunggu, nah kalau tidak ditinggal pergi aja. Beda cerita kalau yang nungguin itu orang punya kepentingan pasti selama apapun orang itu pasti bakal ditunggu. Betul tidak? Ya iyalah dia akan butuh. 

Beda lagi kalau yang merasa ditunggu itu berasa dirinya penting, kadang dengan seenaknya datang semaunya. Kadang juga melebihi jam target yang sudah disepakati dan ditentukan. Misalnya janjian jam 8 pagi, tiba-tiba mendadak acara penting “Nanti ya jam 4 sore”. Dengan gampangnya merubah jadwal yang sudah disepakati. Ya mau gimana lagi namanya punya kepentingan itu apapun akan dijalani. 

Telat karena disengaja oleh berbagai hal yang sebenarnya tidak penting jika alasan itu disampaikan. Karena sebenarnya dia telat karena salah dirinya sendiri. Makhluk seperti ini bisa dibilang cenderung senang “meremehkan” merasa dirinya sudah mengetahui segalanya. Bisa dibilang sedikit congkak ataua menunjukkan ini loh aku tahu segalanya.

“Ah ntar aja paling isinya gitu doang”
Kata “Ah” seakan dirinya paling benar didunia. Salah satu indikasi besar kepala.

Sengaja menelatkan dirinya bisa menjadi kebanggaan tersendiri misal saat menghadiri seminar jadwalnya dimulai jam 8, karena merasa pasti molor acaranya datanglah dia jam set 10. Karena stigma Indonesia itu kalau membuat event jadwal yang tertera diundangan pasti tidak sesuai alias melampaui ekspektasi. Alhasil masyarakat terutama gen millenial ikut ikutan menggunakan kebiasaan tersebut. yang meskipun tidak semuanya. Adalah beberapa yang masih menghormati aturan dan tidak egois memetingkan diri sendiri.

“Eh bener kamu ya acaranya barusan mulai”. Hmm benar aku kan pasti molor, mending berangkat kaya aku aja lumayan bisa nonton tv sebelum berangkat. 

Secara tidak sadar kebiasaan telat disengaja menjadi contoh dan akhirnya mendarah daging pada setiap lapisan masyarakat dimanapun berada. Akhirnya kebisaaan menunggu lama menjadi pemandangan ruwet dan rumit. Kebanyakan dari mereka ketika sudah memutuskan membuat janji bertemu ditempat dan jam yang sudah disepakati. Masih saja bertanya esoknya sejam sebelum berangkat. Padahal sudah jelas dibicarakan sebelumnya. Hmmmm

Padahal jika mereka sadar sudah membuat janji ya langsung dieksekusi tak perlu nunggu  mengirim pesan “Eh kamu wes berangkat a? Lek otw WA aku ya”. Aduhh pemandangan ruwet itu. Dampak kecilnya ketika nunggu ditepi jalan raya bikin macet karena sepeda motor yang berjejer pada nungguin makhluk yang belum datang. Selain itu tidak sesuai dengan waktu yang sudah disepakati. Awalnya janjian jam 8 pagi yang seharusnya jam 8 sudah berkumpul semua dan siap berangkat. Justru jam 8 baru datang satu makhluk dan masih menunggu yang laen. Bisa berangkatnya jam 10 siang itu. Pemandangan sering seperti itu.

Kedua telat direncanakan. Telat macam ini telat yang sudah memiliki prosedur dan SOP yang jelas. Meskipun namanya telat tetap memiliki konotasi jelek dimata masyarakat dunia. Mereka telat bukan untuk kesengajaan hal berfoya-foya tapi memang ada kepentingan yang belum bisa dilepas sehingga meminta kelonggaran atau tambahan waktu dan meminta maaf datang terlambat. Orang seperti ini akan mengabari sebelumnya jika dirinya akan datang terlambat sehingga orang-orang yang sudah menunggunya tidak akan merasa kecewa. 

Mereka-mereka yang sering melalukan rencana telat tidak semuanya juga memiliki alasan baik juga. Kurang lebihnya telat mereka dengan konsep persiapan lebih matang. 

Kemudian telat direncanakan mereka adalah orang-orang yang sangat menghargai waktunya. Misal ketika menghadiri event dan diwaktu yang bersamaan ada pekerjaan yang wajib ia selesaikan terlebih dahulu. Tentu ia akan membuat planning. Jam berapa akan siap-siap? Estimasi perjalanan berapa jam? Beri pesan pada teman kalau datang telat?. Hal semacam itu terlihat sepele tapi jika dilupakan bisa jadi kebiasaan buruk. 

Orang-orang yang berdedikasi tinggi baik itu untuk dirinya atau untuk orang lain ia pasti memilih tidak untuk terlambat dengan alasan apapun. Kembali lagi ya pada alamiahnya manusia memandang orang lain hasil bukan proses.  Telat bukan dijadikan alasan menunda atau menununggu pekerjaaan. Berusaha mem-planning lebih indah kejadian sedari awal.

Baik itu telat disengaja atau telat direncanakan bukanlah kebiasaan yang harus rutin dilakukan. Telat atau terlambat itu dimulai dari pembiasaan yang sering tak terhindarkan. 

Sidoarjo, 27 November 2018


Reactions
lylamanzila
Assalamua'alaikum Halo saya Alfimanzila Orang asli Sidoarjo Email: lylamanzila97@gmail.com

Related Posts

Posting Komentar