Tags

[recent]

Recent Post

3/recentposts

Menelisik kepribadian orang lewat status di social media

19 komentar

Generasi sekarang ialah generasi yang tak lepas dari social media baik itu Whastapp, Instagram. Fenomena memposting kegiatan sehari-hari yang menjadi konsumsi publik tak jarang menimbullkan berbagai spekulasi. Karena status yang dipublish pada khalayak umum bisa mengindikasikan kepribadian atau hal-hal yang disukai maupun yang tidak disukai. Misal dia suka posting tentang hal yang menghujat orang. Sudah bisa ditebak lagi kalau ia tak jauh-jauh dari yang suka follow akun lambe turah misalnya. Lagi misal dia selalu ngeshare about pendidikan, quote motivasi, cuplikan kisah inspirasi bisa jadi atau iya dia suka follow akun-akun yang berkaitan dengan pendidikan. nah kegemaran apa yang disukai orang lain bisa dengan mudah diketahui lewat postingan yang sering dia unggah.


Sebagai khalayak umum bisa membaca kepribadian atau hal yang disenangi. Dengan adanya social media yang dilengkapi dengan status tentu mampu membawa kemudahan. Misalnya ketika ingin ketemu teman di rumahnya “Cek dulu ah statusnya, lah dia lagi dirumah kakeknya gajadi deh besok aja”. Kalau dia seseorang yang selalu mempublikasikan hari-harinya tak sulit juga mencarinya disosial media.

Pernah nggak sih kalian merasa tersindir kalau ada temen bikin stasus hujatan gitu?. Nah itu salah satu dampak adanya icon status di sosial media. Ketika membuat status yang maksud dan tujuannya ditujukan pada si B. Karena yang melihat status itu banyak, bisa jadi yang tidak merasa si B malah baper “Lho itu ditujukan ke aku kah, ya ampun gitu banget sig dia”. Akhirnya membawa dampak keresahan bagi siapapun pembacanya. 

Misal lagi kamu bikin status yang ngasih kode ke dia biar dianya peka. Dan kebetula dianya nggak peka ya nggak bakal direspon deh.  Fitur status di sosial media bisa mengetahui siapa saja yang melihat status kita. Nah sehabis membuat status dirinya sendiri yang akan dibuat penasaran.

“Aduh dia udah ngeliat statusku nggak ya?”.

“Siapa aja yang ngelihat statusku?”.

Tentu bisa menimbulkan kecanduan sosial akhirnya tidak bisa lepas dari sosial media inginnya men-chek terus-terusan. Sebelum tidur cek dulu, bangun tidur cek dulu, apa-apa selalu melibatkan sosial media. 

Dalam bersosial media kejadian apapun bisa kita lihat, bahkan sampai bisa membaca kepribadian orang.  Kembali lagi setiap tindakan harus memiliki etika yang baik tak terkecuali dalam bersosmed (gitu aja ya sebutnya biar ringkes). Etika sifatnya tidak tertulis lebih pada menjaga perilaku diri sendiri ketika berinteraksi dengan orang lain melalu dunia abstrak alias dunia maya, kalau dalam bahasa jawa disebut unggah-ungguh. Ada beberapa hal yang perlu kalian ketahui:

1. Dalam men-follow akun media sosial ikutilah akun-akun yang membawa dampak positif. Ya meskipun nggak mudah sih. Akun tetangga about gosip lebih hits dan memanas bikin penasaran dan ketagihan mental hahaha.

2. Posting lah hal-hal yang tidak menganung unsur hujatan, sindiran, apalagi kebencian masya Allah. Mem-publis hal-hal tersebut sama saja meninggalkan dosa turunan. Bisa dibayangkan setelah kalian meninggal nanti dan masih saja ada orang melihat postingan kalian  yang mengandung unsur hujatan tersebut. Jelas ada dosa mengalir nantinya.

3. Jika kalian ada masalah dengan teman atau anggota komunitas kalian. Jangan sekali-kali melibatkan emosi dalam sosial media. 

Kebanyakan yang terjadi ketika tertimpa masalah langsung bikin sindiran di sosial media bukan malah beripikir mencari solusi. Jika ada masalah sesegera mungkin diselesaikan. 
Hal yang dibikin ribet karena tidak ada yang mau dianggap bersalah dan gengsi meminta maaf duluan. Padahal hal paling mudah ialah memaafkan diri kita sendiri. 

4. Posting dan share ke sosial media yang membawa manfaat orang banyak. Misalnya tentang info pendidikan fakta-fakta uni. Sesekali boleh curhat untuk minta pendapat teman. Dengan begitu akan terjalin silaturahmdunia maya. 

5. Jangan baper sama status orang. banyak kejadian fatal akibat salah penafsiran, karena menganggap maksud status ditujukan pada berbagai pihak. Belajar menjadi pribadi berfikir positif dengan hal apapun yang diposting di sosial media.  Dengan begitu pikiran dan hati lebih tenang tetap menjaga kewaspadaan.

Oke bersosial media itu sangatlah menyenangkan bukan, ya jaman sekarang gitu. Bukan harus dengan seenaknya me-share apapun yang kita suka. Sebagai generasi millenial yang produktif harus pandai-pandai me-filter informasi yang masuk  baik tu lewat  Whatsapp, Instagram, dll. Berita hoax menjadi  musuh paling nyata di dunia sosial media.



Sumber gambar google.com
Sidoarjo, 29 November 2018
Reactions
lylamanzila
Assalamua'alaikum Halo saya Alfimanzila Orang asli Sidoarjo Email: lylamanzila97@gmail.com

Related Posts

19 komentar

  1. Benar, Mb
    Jangan baper sama status orang
    Ya kalau buat kita, kalau g
    Btw, sejauh ini medsos banyak positifny sih mungkin krn sy follow orang2 yg positif jg sprti kata mb

    BalasHapus
  2. Setuju banget mbak, saya pernah masih emosi langsung posting di sosmed, hasilnya sangat memalukan, teman-teman malah jadi nanya-nanya. Akhirnya kalau ada masalah ngadem dulu baru posting tapi makna dibalik kejadian.

    BalasHapus
    Balasan
    1. kencan sama Allah dulu kalo gitu ya hehehe biar gak emosi

      Hapus
  3. Intinya kita harus bijak ya bersosmed. Meski maya tetapi memberi gambaran nyata diri kita.

    BalasHapus
  4. Setuju mb, kadang suka miris ngeliat postingan di sosmed yg suka hujat menghujat, dan yg perlu diwaspadai berita hoax. Kita memang harus pilah pilih berita sebelum share klo perlu cari tau dulu benar atau tidak.

    BalasHapus
  5. Iyaa...nomer 5 yang suka mancing, xixixi..semoga ga ikutan baperan aaah

    BalasHapus
  6. Setuju banget sih tentang hal-hal yang kita follow mencerminkan diri kita. Dan jujur, aku tiap bulan bakal screening follwing aku. Karena tanpa sadar kita bisa berperilaku seperti yg kita ikuti di media sosial. Jika itu baik, tentu sangat bagus. Jika tidak, merugikanlah yg ada.

    BalasHapus
  7. Memamg kita lbh baik mem follow yg membawa ke positif. Ini bisa mempengaruhi kota jg

    BalasHapus
  8. Tepat sekali mbak. Zaman sekarang, harus pandai-pandai membaca, membagi atau berkomentar pada media sosial. Slah baca akan berdampak pada pribadi dan lingkungan. Salh berbagi berarti menyebarkan fitnah atau hoax. Salah berkomentar bisa-bisa dipidanakan. Sangat penting bisa memfilter apa yang masuk dalam akun kita. Semoga kita semua dihindari dari segala marabahaya dari sosial media. Berita yang cerdas berasal dari akun yang cerdas.

    BalasHapus
  9. Iyes, sosmed udah jadi bagian hidup kita sehari2. Tapi tentu aja penggunaannya harus bijak, ya. Berdasarkan yg pernah saya baca, masih ada 'gegar budaya' pada masyarakat kita saat pegang gawai. PR literasi juga masih banyak. Yuk, mulai saja dari situ sendiri, keluarga, dan teman2 dekat Kita :)

    BalasHapus
  10. Memang harus bijak menggunakan medsos. Jangan suka baperan dan curhat sembarangan di sana. Bisa-bisa malah kita yang kena batunya.

    BalasHapus
  11. Alhamdulillah, saya nggak suka nyebarin berita hoax. Mending nulis status sendiri atau motivasi daripd ikut menyebar ajaran kebencian.

    BalasHapus
  12. Duh aku bangdt mba.. pdhal gak niat bikin orang baper ya, eh ternyata ada yg baper sama status aku di fb hehe.. jadi pelajaran aja

    BalasHapus

  13. Memang harus hati-hati kalau bikin status atau menanggapi status orang yang kadang bikin tersinggung. Kalau saya sih biasanya pikir dulu berulang kali sebelum ketik balasan. Seringkali malah nggak saya balas sama sekali, biarin aja ntar juga hilang sendiri . Kita juga harus menghindari bikin status yang galau-galau kayak anak alay......

    BalasHapus
  14. Itu diatas komen dari saya, tadi belum berhasil masukin namanya.

    BalasHapus
  15. Setuju banget mbak. Bijak bersosmed, kalau mau nulis status juga harus dipikir-pikir, "jempolmu harimaumu". terus bener banget, jangan keburu baper, belum tentu juga itu buat kita.

    BalasHapus

Posting Komentar