.jpg)
Izin aku mau sharing tentang dunia kerja pendidikan. Kenalin aku adalah guru ngaji di sekolah formal yang namanya tidak akan masuk simpatika, kalo dinas namanya sistem Dapodik. Kalau ditanya apakah aku berkecil hati? Awalnya sedih iya, lambat laun berusaha membesarkan hati sendiri bahwa yang aku ajarkan kepada anak-anak adalah Alquran inshaallah sudah ada yang menjamin didunia bahkan sampai di akhirat kelak.
Di sekolah aku disebut guru BTQ. Aku termasuk guru generasi awal yang ikut merintis madrasah tersebut. Alhamdulillah tujuh tahun sudah inshaallah masih bertahan. Berbagai kondisi baik itu hal kecil atau besar sudah pernah dialami.
Guru baru datangnya selalu awal, lama-kelamaan juga terlambat. Fakta mutlak. Siapa sih yang mau punya citra buruk di hari pertama mengajar. NGGAK ADA KAN!! Nah untuk memunculkan hal baik itu maka hal paling mudah adalah datang lebih awal. Setelah dua bulan kemudian sudah membaur dengan lainnya, jam kedatangan sedikit mepet tidak jadi masalah. YANG TERLAMBAT BUKAN SAYA AJA!!.
Nunjukin skill selain mengajar, alamat jadi bahan suruhan. FAKTA!! Sekolah adalah tempat belajar bagi siswa ataupun guru. Tiap guru pasti memiliki skill berbeda-beda. Ada yang jago public speaking, jago menghandle kegiatan, rapi dalam administrasi keuangan dsb. Dimanapun tempat kerjanya, satu orang bisa pegang lebih dari satu jobdisk. Selain untuk mengasah skill seseorang, menerima hal baru juga membuat jati diri ikut tertantang.
Namun beda kondisi bila skill yang dimiliki dipergunakan tidak semestinya. Misalnya, Si A kemarin nge-MC bagus bisa mencairkan audiens, tiap acara dia aja MC-nya. Nggak gitu juga nodongnya, bukan karena bisa jadi keterusan tanpa giliran. Minimal bergilir degan lainnya agar ada regenerasi bila sewaktu-waktu ada hal mendadak bisa digantikan.
Sudah jam pulang, eh malah kena cibir. Ada nggak sih kalian kalau pulang tenggo? Komen dong. Ditempat kerjaku guru BTQ dapat jam pulang lebih awal dibanding guru kelas ataupun guru mapel. Saat jam pulang guru BTQ, kami dikatain ayo jin ifrit segera pulang. ada lagi, saat guru BTQ piket jam 06.15 nggak tuh cincong, giliran pulang tenggo pada rebutan ngeroasting. Alhamdulillah sebagai bukti masih diperhatikan orang lain.
Jadi guru lewat ordal. kalau di sekolah lain percaya pasti ada masuk jalur ordal. tapi aku nggak percaya kalau ditempatku, selama 7 tahun disana selalu open recruitment dan melalui berbagai tahapan seleksi baru dinyatakan lolos. Tahun ini ditempat kerjaku sudah ada dua guru masuk jalur anak pengurus Yayasan. Sebenarnya fine fine aja masuk jalur ordal, asalkan ia memenuhi kualifikasi yang dibutuhkan. Masalahnya baru kemarin aja ada guru baru sudah diterima dan masuk baru dua minggu, tapi lamaran kerjanya baru masuk di email madrasah. Hmm bagaimana aku menyebutnya?? Apakah madrasah ini menuju generasi sesuai keinginan dan kemauan sendiri. Yasudahlah.
Apa benar bila pengurus Yayasan aktif maka kepala madrasah tidak berfungsi?. fyi madrasah ditempatku bisa dibilang berhasil merintis selama tujuh tahun tanpa campur tangan pengurus Yayasan. ya karena pengurus Yayasan juga sibuk mencari mata pencaharian lain. Aku menilainya Yayasan tidak pernah mengawal proses mobat-mabitnya di madrasah, tapi disaat madrasah sudah mendapat hati ditengah masyarakat BOOOM barulah Yayasan ikut menghandle terutama UANG.
Misal, Untuk mendapatkan dana kegiatan yang seharusnya cukup selesai di ranah kepala madrasah, itu tidak boleh. HARUS MENGHADAP KETUA YAYASAN menjelaskan secara terperinci. Guru harus datang kerumah Yayasan yang tempatnya sebelahan dengan madrasah. Lucunya kenapa bukan orang Yayasan yang ke madrasah? Faktanya setelah menghadap Yayasan proposal tidak langsung disetujui, pasti ada revisi ini dan itu. Itu baru proposal lho! Belum LPJ nanti!! Maka terjadilah guru kesana kemari menghadap Yayasan. bisa disebut apa ya adegan itu?
Lalu apa hak dan kuasa kepala madrasah bila hal yang bukan ranahnya YAYASAN ikut menentukan? Padahal semua berkas menandatangani adalah kepala madrasah bukan Yayasan. kalau suatu saat nanti naudzbillah ada hal buruk terjadi, yang terseret pertama adalah kepala madrasah bukan Yayasan.
Guru belum menikah, jadi ajang perjodohan. Suka kesel sih dengan guru modelan begitu. Karena aku sendiri pernah merasakan, alhamdulillah sekarang sudah melepas masa lajang jadi aman Sentosa. Tapi aku mengamati betul rekan kerja yang dijodoh-jodohkan, terlihat sekali tidak nyaman dijodohkan seperti itu. Kenapa ya? Mungkin maksudnya candaan, but please jangan dinormalisasikan.
Katanya madrasah, kalau diajak solat kok jawabannya nitip dong!!. Ditempat kerja kamu gitu juga nggak?? Agak laen sih, dunia kerja yang sering menggaungkan solat tepat waktu. Eh giliran waktu solat, malah ditunda-tunda. Lebih mendahulukan ngobrol dengan bestinya. BUKAN SOK ALIM YA apalagi menggurui!!
Ada lagi lho murid-muridnya solat berjamaah, sewajarnya dewan guru ikut berjamah dibawah kan? Oh tidak dong, merasa sudah ada guru BTQ yang menjaga dan mentertibkan para murid berjamaah. guru kelasnya ngapain dong? Tulis jawaban di kolom komentar.
By the way itu tadi curahan hati yang terpendam selama ini. Kalau kalian ingin menambahi sangan aku persilahkan!!





Posting Komentar
Posting Komentar