[recent]

Recent Post

3/recentposts

Peran Anak Muda Dalam Mengelola Pangan dan Kerajinan Lingkungan

5 komentar
sumber pixabay

Kaum muda punya peran besar terhadap hal-hal yang terjadi di sekelilingnya, lalu apakah orangtua tidak punya peran besar menjaga lingkungan? Ada tapi tidak secara menyeluruh. Darah semangat kaum muda lebih membara, pola berpikir mereka lebih beragam dan berkategori unik.

Sekelibatan pengamatanku di lingkungan sekitar jarang menemukan anak muda yang peka dengan lingkungan. Atau apa mungkin pengamatanku soal lingkungan kurang jauh kali ya? tapi seyogyanya cinta lingkungan dimulai dari hal sekitar. Tapi pernah dengar nggak sih, kalau pemuda sebagai agent of change di kampungnya sendiri itu kurang didengar, malah cenderung dianggap remeh.

Ternyata tidak semua tempat atau kampung mengecilkan niat anak muda untuk menyelamatkan lingkungan mereka. Beberapa anak muda punya mental tangguh, punya ambisi besar memberikan perubahan yang layak untuk sekitarnya. Aku ambil dua lokasi di Sidoarjo yang diubah anak muda jadi tempat tujuan untuk belajar berbagai lapisan masyarakat. Kampung lali gadget di wonoayu dan kampung sinaoe di Siwalanpanji. Kedua tempat itu berawal dari inisiasi anak muda atas keresahan yang terjadi di lingkungannya. Semua serba proses yang awalnya dianggap “nggak jelas” sekarang jadi sumber mata pencaharian warga lokal. Itulah hebatnya anak muda kalau sudah bergerak seolah alam ikut mendorong aksinya.

Kembali berbicara soal peduli lingkungan yang dilakukan anak muda. Diberbagai pelosok negeri masih banyak anak muda peduli lingkungan mereka. Pada sesi sharing webinar #EcoBloggerSquad kali ini dipertemukan dengan tiga dara cantik yang jadi pahlawan ketahan pangan negri.

Pembicara pertama bahas tentang food sustaination. Lebih mudah mengenalnya adalah ketahanan pangan untuk masa kini dan masa mendatang tetap tersedia. Tiga isu yang jadi perhatian ketahanan pangan 1) pembukaan lahan secara bebas, 2) nutrisi makanan yang dibutuhkan manusia tidak sebanding dengan daya kemampuan konsumen untuk memenuhi, 3) sampah yang dihasilkan dari makanan cukup banyak.

Salah satunya adalah food production. Makanan kemasan yang semakin banyak kita temui dengan mudah di supermarket. Padahal makanan yang disajikan tidak secara fresh tidak menjamin vitamin yang diberikan sama seperti langsung memetik.

Siapa yang paling bertanggungjawab soal ini? konsumen itu sendiri, melakukan protes besar-besaran, spek di media sosial, bisa memilih produk mana yang pantas dikonsumi, layak untuk lingkungan dan tidak merusak lingkungan. Maka dari itu bijaklah dalam mengkonsumsi makanan mulai sekarang.

Berdasarkan data yang tertulis sampah makanan yang dihasilkan di indonesia ada diperingkat 8 di dunia. Sisa makanan di level konsumen dan rumah tangga menumpuk dan menimbun menghasilkan gas metana yang bisa menyebabkan kebakaran. Selain itu juga menimbulkan global warmin. 


Konsumen Punya Peran Apa?

Konsumen harus mampu menyeleksi makanan yang akan dikonsumsi sesuai kebutuhan nutrisinya. Misalnya saat ini tubuh dia kurang fit, dia perlu mengkonsumsi makanan kaya serat seperti buah dan sayur sesuai proporsinya.

“Mengonsumsi makanan sehat sama dengan mahal” kebanyakan orang mengartikan seperti itu. kembali lagi narasinya, karena melihat makanan sehat berkiblat pada restoran bukan pada makna yang sebenarya. Ambil contoh vegetable with peanut sauce, padahal kita lebih sering mengenalnya dengan gado gado yang harganya sangat terjangkau.

Saat beli makanan lihatlah label makanan tersebut. teliti saat membaca inggredients, nilai takaran saji yang disematkan produk tersebut apakah sudah benar-benar mewakili gizi dalam produk makanan itu. Beberapa produk makanan diluar negeri sudah memberikan label makan “organik” bertujuan menyampaikan pada konsumen bahwa produk ini termasuk produk berkelanjutan dan ramah lingkungan.

Mengurangi surplus makanan tidak sampai masuk ke sampah. Dimulai dari merencanakan apa yang akan dimakan? Menata grocery makanan sesuai tanggal expired. Mengurangi sampah makanan tidak harus melulu menghabiskan porsi makanan itu, dari mulai mengetahui proporsi kebutuhan sebelum memutuskan untuk mengonsumsi.

Mengubah narasi untuk mengkampanyekan ketahanan pangan, misalnya memberikan informasi via video tentang perbandungan ikan salmon dengan ikan lokal, dengan menunjukkan kelebihan yang dimiliki ikan lokal tidak kalah bagus kandugan vitaminnya dengan ikan salmon. Kemudian share tips-tips menyimpan makanan supaya awet agar tidak sampai masuk land fill. Aksi-aksi kecil ini bisa kita lakukan oleh siapaun, semakin orang ikut dan menshare cerita tentang aksi lingkungan makin besar pua peluang kerusakan lingkungan terjadi.

Sentra Kreatif Lestari Siak (SKELAS)

SKELAS adalah pusat inovasi yang diinisiasi oleh kaum muda kabutaten siak untuk mennigkatkan ekonomi masyarakat lewat solusi kreatif yang berebasis ekonomi lestari tentang pelestarian budaya lokal dan mereka biasanya pakai hastag #SiakAsik di segala kegiatan mereka.

SEKLAS punya 3 fungsi

1. Promosi dan komunikasi membangun narasi pusaka lestari

2. Inkubasi, akselerasi dan agregator

3. Pusat data dan informasi

Anggota SKELAS berasal dari berbagai backgorund, tujuannya saling memudahkan bertukar informasi dan menambah relasi agar SKELAS ini bisa mudah didengar banyak lapisan masyarakat.

SKELAS memberikan ruang bagi orang muda untuk mengmbangkan dan memanfaatkan potensi mereka secara kreatif. Produk-produk yang mereka ciptakan harus memikirkan dampak baik dan buruknya untuk lingkungan. Misalnya mereka membuat produk sirup nanas yang ditanam di lahan gambut, dimana lahan gambut di kabupaten lunak semakin berkurang karena efek kebakaran huta.

produk SKELAS

Mengubah kemasan bolu bekatul yang semula hanya bisa dinikmati dalam jangka watu 3 hari, diinvas bisa dikonsumsi dalam beberapa bulan dengan catata bebas gluten dan rendah gula. Hal ini bisa menambah daya jual ekonomi warga lokal.

SKLAS menyediakan platform yang menyediakan berbagai informasi tentang Siak. Pada intinya platform menyediakan segala informasi kreatif orang-orang di Siak.

Nah gimana tertarik membuat SKELAS di wilayah tempat ginggal kalian? Boleh banget dong.

Berbicara ketahanan pangan rasanya segala hal yang kita lakukan saling berkaitan. Makanan yang dikonsumsi berdampak pada lingkungan. Kemudian kebiasaan manusia sehari-hari yang tidak bisa lepas dari listrik juga menaruh perhatian. Kita tahu listri bersumber dari pembakaran batu bara, yang mana hasil pembakaran batubaara sama sekali tidak ramah lingkungan dan menyebabkan global warming.

Bisa dibayangkan dalam sehari melakukan re-charge HP berapa kali, kali berapa orang yang meggunakan HP, artinya sudah berapa energi yang terbuang. Belum lagi penggunaan listrik yang tidak sewajarnnya dan tidak sesuai porsinya. Akan semakin sia-sia energi listrik dari pembakaran batubara tersebut.

Maunya pemerintah mengguna metode Co-Firing sebagai ganti energi pembakaran di PLTU. Dengan cara mencacak kayu kemudian dilakukan pembakaran, ini dipercaya bisa menguragi polusi. Tapi pada kenyataanya malah menambah masalah baru. Hutan adalah sumber kehidupan semua makhluk hidup, bila hutan dijadikan bahan ekploitasi beberapa golongan bukan tidak mungkin bumi semakin tidak baik-baik saja.

Sebagai anak muda sekaligus bloger merasa ikut punya tanggungjawab mengkapanyekan pola hidup sehat dimulai dari konsumsi makanan sampai pola menghargi energi. Syukur-syuku ikut menyumbang energi terbarukan. Namun dari hati yang mendalam masih ada keresahan atau rasa taku menyuarakan soal surplus makanan, karena seringkali saat makan bersama rekan kerja. Padahal kita makan model prasmanan meyesuaikan usus masing-masing, tapi masih ada juga beberapa teman yang tidak menghabiskan makanan. Inginku ku mengingatkan, tapi naluri berteriak “itu orang lebih tua kamu nggak layak ndawuhi”.

Share dong cerita kalian soal pencegahan makanan agar tidak sampai terbuang di kolom komentar ya

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

lylamanzila
Assalamua'alaikum Halo saya Alfimanzila Orang asli Sidoarjo Email: lylamanzila97@gmail.com

Related Posts

5 komentar

  1. Paragraf terakhir bener banget kak, suka kesel liat org yg makan prasmanan padahal harusnya tau porsi diri sendiri eh malah suka nyisa huhuhu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah memang itu Na. Sering lihat yang begitu. Ambil banyak-banyak, trus gak habis dan sisanya itu banyak masih di piringnya.
      Anakku dulu juga kalo ambil ikan gal mau dipotong, mau semua, taoi gak dihabisin. Akhirnya tak minta tulang ikan tiap ke pasar buat motong ikannya lebih kecil, biar habis, kalo pun nyisa bisa hap, gak kegedean untuk dimakan emaknya hehe

      Hapus
  2. Alhamdulillah soal pangan dan porsi saya cukup cerewet di rumah. Anak di rumah selalu disounding tentang betapa ruginya melakukan mubazir. Mulai dari mubazir temennya setan hingga mubazir adalah menyia-nyiakan rezeki kita.
    Bahkan sampe selalu mematikan air dan listrik setiap tidak dipakai ya kak.

    BalasHapus
  3. Saya mengambil makanan, in syaa Allah saya habiskan, kecuali kalo orang yang ambilon dan ngasih porsi raksasa ya gak bisa saya habisin. Anak muda perannya penting nih, dari diri sendiri, minimal kalau makan dihabisin.

    BalasHapus
  4. Banga banget nih sama anak Muda yang menjaga lingkungan, bahkan memberikan dampak positi terahdap masyarakat. Bahkan tidak membahas tentang reboisasi yang umum digaungkan, melainkan dari pola makan, membentuk ekonomi kreatif dan energi yang digunakan.

    BalasHapus

Posting Komentar