[recent]

Recent Post

3/recentposts

Refleksi Khutbah Sholat Idulfitri di Masjid Agung Sidoarjo


1 Syawal 1444 H jatuh hari Sabtu, 22 April 2023 sesuai ketetapan pemerintah. Kalo ada yang merayakan lebaran di hari Jumat, ya tidak ada masalah. Semua sama baiknya, yang kurang baik itu sengaja nggak ikut sholat id alasan bangun kesiangan. Pertama kalinya aku melaksanakan salat id di masjid nomor satu di Sidoarjo. Tahun sebelumnya adalah kali pertama melaksanakan salat id di lingkungan masjid Agung Sidoarjo tapi tidak masuk didalam masjidnya.

Tahun kedua ini aku sudah berencana harus bisa salat id di dalam masjid Agung bukan di pendopo dekat alun-alunnya. Menurutku suasana kekhusyukan dan kenikmatan lebih terasa di dalam masjid. Yah meski tidak dapat saf bagian depan, minimal bisa dapat saf didalam masjid bukan di pelataran.

Aku baru tahu lho, kalau shaf bagian depan jamaah depan itu diperuntukkan kalangan istri pejabat. Jam sudah menunjukkan pukul 6 pagi, kalo dulu masih tinggal di desa Kemiri, jam 6 tet sudah dimulai salat. Ternyata salat id baru dimulai setelah bupati datang. Owh gitu, nggak boleh iri ya.

Di masjid Agung ada beberapa petugas mengarahkan jamaah agar menempati shaf yang masih kosong. Kelihatannya shaf sudah penuh, diantara shaf yang diduduki jamaah masih ada yang kosong. Alhamdulillah aku kebagian shaf tidak terlalu belakang.

yang bikin aku menarik adalah isi khutbah yang disampaikan pak imam adalah persoalan kerusakan moral anak zaman sekarang.

Kebiasaan Ramadan Tetap Dijaga

Aku nggak munafik, langkah terjauh adalah berangkat ke masjid. Padahal jarak rumah dengan masjid hanya beberapa langkah. Malasnya itu minta ampun. Ramadan tiba seolah merubah segalanya, tadinya jarang pergi ke masjid untuk jamaah salat lima waktu, minimal jamaah salat subuh karena habis sahur dianjurkan tidak tidur.

Tadarus alquran tiap hari pahalanya dilipatgandakan oleh Allah. Entah tadarus sendiri di rumah atau di masjid. Selepas Ramadan sebisa mungkin tidak hilang kebiasaan tersebut. Alquran adalah kitab suci umat Islam, jangan sampai lepas. Ya kali kalah sama gadget, tiap detik selalu kita ingat, kemanapun selalu kita bawa. Apa benar sikap kita ke gadget lebih baik daripada sikap kita kepada alquran.

I’tikaf malam ganjil, terutama di sepuluh hari terakhir bulan Ramadan. Masjid-masjid berubah jadi lautan manusia, shaf penuh sesak para jamaah memohon kepada Allah. Masjid yang dikunjungi orang Sidoarjo untuk melaksanakan maleman didaerahku namaya masjid agung. Ada lho jamaah berangkat jalan kaki dari rumah. masyaAllah, setiap langkah dihitung ganjaran oleh Allah.

Salat tahajud, salat hajat dan segala doa baik dipanjatkan kepada Allah di sepertiga malam. Tidak ada rasa kantuk, lelah, bermalas-malasan di sepertiga malam di sepuluh hari terakhir bulan Ramadan. Dilanjut menunaikan salat shubuh berjamaah. MasyaAllah umat muslim saat ramadan bersatunya luar biasa.

Semoga selepas kepergian ramadan tahun ini, kebiasaan baik selalu mengingat Allah tetap berjalan.

Ajak Anak-anak Pergi Ke Masjid

Lawan kita saat ini adalah kecanggihan teknologi dalam genggaman. Coba lihat anak mana keluar tidak pegang gawai. Itu tugas orang muslim dewasa bagaimana caranya alquran tetap di hati mereka agar tidak sampai tergeser.  

Pernah melihat sendiri anak-anak ramai saat salat taraweh, dimarahi habis-habisan sama orang dewasa. Apa yang terjadi anak-anak tidak berani datang ke masjid. Masjid, musholla sepi tidak ada suara anak-anak kecil. Justru anak-anak kecil inilah generasi penerus pengisi keramaian masjid kelak.

Karena takut musholla kesepian anak-anak kecil, suamiku selalu mengajak anak-anak jamah di musholla. Diminta adzan tiap waktu salat, pujian juga. Saat anak-anak ramai, suami sengaja tidak memarahi mereka. Karena takut kejadian beberapa tahun silang terulang, anak-anak dimarahi akhirnya mushollah sepi. Suami punya cara sendiri, saat adzan tidak boleh berisik selain adzan silakan ramai sepuas kalian.

Kalian pasti dengat berita iman besar di turki ajak main anak-anak didalam masjid, diberi permen pulan. Bahkan disediakan ayunan didalam masjid, imam besar tersebut ikut bermain bersama anak-anak. MasyaAllah itu bukti betapa masjid itu bukti peradaban islam, sumber kebahagiaan anak-anak. Yuk ramaikan masjid terdekat kalian!!

Mampu Menjaga Lisan Dan Perbuatan

Hmm suka ghibah, pas Ramadan bisa stop sendiri. Tiba-tiba ingat ramadan lisan harus dijaga, ramadan pergi ghibah makin dikencangin karena sudah tertunda sebulan wkwk. Makan daging orang lain kenapa gurih banget ya? soalnya nggak ikutan beli wkwk.

Berusaha menatap ucapan agar tidak menyakiti lawan bicara. Eits itu susah banget. Apalagi kalo ketemua orang nggak mau dirinya kalah, diri ini mendengarkan berasa muak dengerin pencapaiannya. Ingat-ingat masih Syawal nggak boleh nge-gas.

Tetap Berbuat Baik Meski Sering Dijahati

Ahh menusuk banget dengar khutbah poin ini, pengen meledak-ledak rasanya. Sudah berapa kali dijahati tidak aku balas, hanya kuberi senyuman saja. Mungkin dianya gak sadar sudah menyakiti orang lain. Ah gimana ya menghadapi orang tabiatnya seperti itu? bukan berarti playing vitim lho ya.

Aku sadar semua orang pernah mengalami posisi satu ini. Entah aku, dia bertahan berapa lama?. Dijahati setiap pertemuan, direndahkan didepan keluarganya seolah dirinya terbaik dihadapan semua orang. Padahal nggak sadar doa orang terdzalimi lebih mustajabah.

Ilmu Agama Dianggap Kuno

Ada cuplikan cerita Habib Ja’far mengajari ngaji dirumah temannya digaji dua juta, anjing peliharaan tuan rumahnya dileskan dengan bayaran 10 juta. Kaget dong, gaji ngajarin anjing lebih besar gaji belajar ngaji.

Itu gambaran pas kondisi sekarang. Banyak orang lebih mengutamakan ilmu umum seperti matematika, bahasa inggris, les skil ini itu soal belajar mengaji dianggap enteng. Jangankan ilmunya, orang yang ngajarin ngaji aja diremehkan.

Mereka beranggapan menjuarai kompetisi bidang akademik atau non akademik lebih menjanjikan dibanding belajar agama. Kalau sudah seperti ini gimana? Saat dewasa ingin bisa baca alquan terbata-bata, pengen belajar ke TPQ sudah malu karena sudah besar. Benar syair zaman dahulu mengukir diatas air adalah gambaran orang tua ingin bisa baca alquran.

Poin-pon khutbah yang disamapaikan real kondisi yang kujalani saat ini. Hanya beberapa, sisanya tidak tercatat di hp, karena terlalu asyik penyampaiannya. Satu lagi, beruntung saat iman khutbah aku tidak berbicara dengan orang kanan-kiri, sia-sia orang berbicara saat imam khutbah.

Semoga kita semua masih diberikan umur panjang bisa bertemu Ramadan di tahun selajutnya bersama orang-orang tersayang. Semoga selepas kepergian ramadan ibadah kita semua makin meningkat seperti semangat di bulan Ramadan.

 

 

  

lylamanzila
Assalamua'alaikum Halo saya Alfimanzila Orang asli Sidoarjo Email: lylamanzila97@gmail.com

Related Posts

Posting Komentar