[recent]

Recent Post

3/recentposts

Hidup Terasa Lebih Sempurna Bersama Orangtua

Posting Komentar

Dua hari ini aku merasa sendirian karena di rumah sendiri, semenjak diajak tinggal berdua bersama suami setelah ijab qobul waktu itu, mau tidak mau harus rela diboyong ke rumah suami. Bulan pertama pernikahan perasaan sedih belum muncul, namun lambat laun rutinitas kehidupan pun mengalir. Suami bekerja, saya pun juga bekerja, kami harus saling bergotong-royong mengerjakan urusan rumah tangga.

Aku memang tidak tinggal jauh dengan orangtua sendiri, walaupun rumah suami dekat dengan orangtuanya perasaanku tidak akan sama seperti dengan orangtua sendiri. Seperti kata kebanyakan orang, istri tidak akan pernah bisa akur dengan mertua. Yah walaupun ada pengecualian, kesannya mungkin bisa tidak senang dengan mertua tapi saat dihadapan mertua harus berlagak baik. Walau begitu, orangtua adalah orang yang harus disegani, umur kita terpaut jauh apalagi pengalaman mereka tidak sebanding dengan diriku yang pernikahan baru seumur jagung.

Dibalik drama pernikahan, urusan rumah tangga, urusan orangtuaku juga masih jadi tanggungjawab diriku. Umur Ayah dan Ibu semakin tahun semakin dikurangi oleh Allah, kesehatannya pelan-pelan dikurangin oleh Allah, tapi semangatnya memberi motivasi kepada anaknya tidak pernah berkurang.

Sekalipun si anak sudah menikah, hidup sendiri, orangtua tetap menganggap anak itu masih anak kecil beum dewasa,, iya bukan?. Aku memang sudah tinggal sendiri tidak bersama orang tua, tapi naluriku masih ingin dan ingin terus-terusan membantu orangtua saya.

Malam itu aku di rumah sendirian setelah pulang dari rumah orang tua sendiri, suami berangkat kerja sore. Aku sengaja menghidupkan radio untuk menemani suasana dengan chanel acak, terputarlah lagu melly goeslow yang nuansanya selalu bikin mewek pendengarnya, salah satu liriknya oh bunda ada dan tiada dirimu kan selalu ada diriku.

Aku jadi teringat tadi sore aku bercerita, bersenda gurau dengan Ibu, baHkan mengeluh  rutinitas hidup tiap hari setelah menikah.

Yah besok senin Buk

Opo’o hari senin kok wedi, jenenge urip yang ngunu, bayangno ibuk biyen habis nikah bayaran ayah mek titik, tapi Allah nggak tinggal diam, suwe-suwe Allah ngangkat derajat ibuk

Sambil mendengarkan lagi itu, air mataku menetes sengaja membayangkan Ibuku melahirka, merawat aku, memberi makan bergizi, tidak pernah mengeluh saat aku meminta sesuatu saat kecil, Ayahku yang tidak pernah menolak permintaanku saat kecil. Dibanding dengan diriku baru tinggal sendirian sudah mengeluh tidak karuan, Ibu membesarkanku dengan susah payah tanpa mengeluh, sedangkan aku perjalanan baru dimulai sudah mengeluh.

Aku tahu aku memang bukan Ibuku, tapi aku telahir dari rahim yang perkasa. Ya orangtuaku pekerja keras dari level bawah, Ayahku buruh pabrik, Ibuku seorang Ibu rumah tangga sekaligus penjual, aku mengingat-ingat diriku saat masih sekolah. Ibuku jualan tiap hari tidak ada yang membantu sampai bisa membiayai SMA, sedari kecil SD sampai SMA sudah dibiasakan membantu menjuali orang, jadi sedikit meringankan capeknya ibu.

Kalau pulang sekolah jam 1 masih mending bisa langsung gantiin, nah kalau aku pas pulang jam 4 saat itu aku nggak sadar gimana capeknya ibu jaga warung sendirian sedangkan kadang aku pas sekolah suka hura-hura. Sekarang aku mulai sadar perjuangan Ibu bisa memberikan penghidupan sangat layak pada diriku harus butuh perjuangan. Dan Ibuku tidak mengeluh, betapa capeknya Ibu jaga warung sendirian dari pagi sampai sore menunggu  aku pulang dari kuliah, supaya bisa aku gantian jaga warung.

Sampai saat sakit ibu rela jaga sepanjang demi aku bisa istirahat, terbuat dari apakah hati dan tenaga seorang IbU. Aku nggak tega mengingat-ingat memori saat aku dimarahi karena kesalahanku sendiri tapi malah membantahnya. Ibu yang selalu cerewet tiap pagi berangkat sekolah, ngomel-ngomel kalau barang-barnag tidak dikembalikan semula.

Dan sekarang aku merasakan kasih sayang Ibu dan Ayah itu nyata adanya, maaf aku memang anak bandel, suka uring-uringan dengannya. Waktu itu aku belum sadar apa itu rasa kasih sayang, peduli orangtua pada anaknya. Tapi saat tinggal bareng suami, perhatian yang paling aku kangenin itu omelan Ibu dan pembelaan ayah kepadaku. Suami memang sepenuhnya hak kita setelah ijab qobul, tapi aku merasa suami itu masih orang lain tidak sesayang dan secinta orangtua kita sendiri.

Orangtua itu segalanya untuk anak, anak adalah segalanya untuk orangtua. Aku bersyukur dan beruntung masih ada orangtua untuh bisa kutengok tiap hari sepulang kerja, bisa ngobrol, bercanda bahkan saling menasehati haha.

Tiap abis bangun dari kasur, jelas mata masih berat banget kucoba ingat perjuangan Ibu, Ayah bertahun-tahun seperti ini tidak pernah bosen, mengeluh mengurus diriku, aku yang baru aja memulai udah loyo. Ayah Ibu aku kangen tapi malu untuk ngomong.

 

lylamanzila
Assalamua'alaikum Halo saya Alfimanzila Orang asli Sidoarjo Email: lylamanzila97@gmail.com

Related Posts

There is no other posts in this category.

Posting Komentar