Tags

[recent]

Recent Post

3/recentposts

Tips Hidup Sehat, Solusi Buat Kamu Follower Plastik

18 komentar



Sampah sering identik dengan barang kumuh, kotor, tidak terawat intinya yang jelek-jelek itu sifatnya milik sampah. Kasihan dia anggota bumi yang tak dianggap. Tapi tahukah kalian bahwa manusia setiap harinya dipastikan menghasilkan sampah sekantong kresek besar yang warnanya merah itu. Masih hitungan individu belum lagi rumah tangga, warung, cafe apalagi perusahaan jelas bejibun macam sebesar gunung krakatau kalau dikumpulkan. Sampah terbanyak sampai saat ini masih diduduki bahan yang berbahan plastik. Contoh kecil misalnya anak sekolah jajan di kantin belinya gorengan nah otomatis perlu kresek, lembaran kertas minyak, tak lupa plastik sebagai wadah petis, kalau dimakannya di dalam kelas bukan di kantin langsung. Bahan sekali pakai buang ini menambah deretan bahwa plastik temasuk kategori penyumbang sampah terbanyak. Kalau dikalikan bisa habis berapa banyak plastik dan kertas minyak perharinya. Padahal plastik sendiri ialah bahan yang sulit terurai dan mudah sekali merusak ekosistem lingkungan. Plastik juga berdampak buruk pada tubuh manusia, jika sering mengkonsumsi makanan panas menggunakan plastik.

Lalu kalian masih pura-pura, tidak peduli atau sengaja ogah-ogahan ribet berkampanye hidup sehat dengan mengurangi sampah plastik. Yuk kembali berjuang sama-sama hidup sehat dengan minim plastik.  Simak beberapa caranya berikut ini
.




Makan langsung ditempat. Makan ditempat jelas lebih nyaman santai bisa melihat pemandangan atau kalau bareng sama teman bisa santai mengobrol intinya quality time lah. Mulai dihindari makan dibungkus entah menggunakan plastik, kertas minyak atau packaging makanan berbahan plastik. jika memang tidak memungkinkan, harus mau ribet dengan bawa wadah sendiri. Misal ketika bepergian identik dengan nasi kotak untuk konsumsi di tempat rekreasi. Dimaksudkan biar ndak ribet bawanya “Kan enak langsung buang, mau wisata kok repot”. Alangkah lebih baiknya jika membawa box makanan sendiri meskipun kedengarannya ribet, tapi demi mengurangi  penggunaan box makanan yang ikut-ikutan menyumbang sampah, apa salahnya bukan?.



Single use plastic. Plastik memang sudah menjamur menjadi kebutuhan manusia yang tak terkecuali misalnya bungkus teh sachet harga Rp. 1000 itu aja pakai plastik, packaging makanan ringan  alias ciki pakai plastik, beli pentol bakar di pinggir jalan pun pakai plastik, sampai dos box handhphone juga memakai plastik. Harga plastik memang murah sekali Rp. 3500/pack nya yah gimana mau pilih yang mahal ada yang lebih murah kok hehehe.  

Gubenur Jakarta Anis Baswedan pun mengatakan bahwa kita tidak bisa melarang  penggunaan plastik itu beredar karena kita juga masih membutuhkannya, harus memikirkan solusi terlebih dahulu sebelum melakukan pelarangan. Maka demi melakukan kampanye sehat lingkungan langkah kecil diawali dengan single use plastik yang artinya benda berbahan plastik tersebut bisa dipakai berkali-kali  tidak sekali pakai buang (seperti bungkus es plastikan yang dijual seharga Rp. 1500). Misalnya kalian beli es degan di pinggir jalan pengennya diminum dirumah sambil  nonton sinetron Anak Langit kalian musti bawa tumbler sendiri. 

Biasanya ibu-ibu yang sering belanja di pasar pasti belinya beraneka ragam dari mulai sayur-sayuran, daging, makanan cepat saji, sampai baju daster itu semua jelas pembungkusnya plastik kan. Nah kok tahu kak? Karena ibu saya kayak gitu biasanya. Lalu gimana cara menguranginya? Single use jelas, untuk bahan makanan lunak seperti daging kalian bisa menggunakan food container, nah untuk sayuran, pakaian bisa menggunakan tas canvas dengan size jumbo. Atau kita perlu mengingat tas belanja dari bambu tempo dulu selalu digunakan saat belanja ke pasar oleh Ibu-ibu. Bisa digunakan sebagai solusi perlahan-lahan tidak menggantungkan tas kresek pada penjual dengan menyediakan tas sendiri.

“Ih kok ribet banget, udah hidup ini susah malah dibikin susah”. Memang kelihatan dan kedengarannya ribet. Tapi kalau itu dijalani dengan hati yang tulus semua akan terasa fine-fine aja contohnya ini





Menolak sedotan. Harga sedotan pack yang dijual di agen-agen terdekat harganya sangat murah dan  terjangkau  (Rp. 3000/per pack). Sering dijumpai saat makan di Cafe, Restoran cepat saji ataupun warung minumannya diberi sedotan, padahal sudah ada sendoknya untuk mengaduk minuman. Diminum langsung pun bisa tanpa perlu sedotan. Takut lisptiknya luntur? atau takut nggak dicap modis kalau nggak pakai sedotan?.

Perbedaan minum menggunakan sedotan atau tidak memang ada bedanya? Tentu ada, kalau sedotan sendiri bisa kalian cek lubang didalamnya terdapat kotoran kecil-kecil semacam pasir, bisa jadi  sedotan itu diproduksi dengan daur ulang (sedotan warnanya loreng-loreng). Lalu digunakan untuk jalannya air menuju tenggorokan. Bisa dibayangkan jika hal tersebut dilakukan berulang-ulang ada berapa kotoran mengendap dalam dada manusia. Bahan dari sedotan sendiri juga berasal dari kimia otomatis akan berdampak pada tubuh manusia jika sering-sering mengkonsumsi barang berbahan kimia. 

Meminum langsung tanpa memakai sedotan jauh lebih nikmat dan segar (menggunakan gelas, atau tumbler minum). Karena bibir mulut langsung bisa merasakan sensasi minuman tersebut. 




Minim tisu. Sepertinya kita harus kembali menerapkan kebiasaan waktu kecil era 90 an. Waktu kecil sering dibiasakan ketika pergi ke sekolah tidak lupa bawa bekal, tumbler minuman dan tidak lupa sapu tangan lucu. Penggunaan tisu waktu itu masih jarang. Tapi sekarang bisa kita lihat di era serba praktis marak sekali penggunaan tisu dari mulai warung, resto, bepergian, dalam rumah pun ikut-ikutan menggunakan tisu. Sedikit-sedikit tisu, bersin-bersin (pakai tisu), habis cuci tangan (tisu lagi), makan yang panas dan berminyak (tisu lagi).

Semakin tinggi produksi tisu semakin banyak pohon yang akan sering ditebang dan semakin panas bumi kita ini. Mungkin memang praktis menggunakan tisu jika bepergian. Boleh menggunakan tisu dengan sewajarnya dan seperlunya saja. Tapi akan lebih baik kembali menggunakan sapu tangan/serbet yang bisa dicuci setelah dipakai.

Manfaatkan sampah plastik.  Sampah itu bukan berati musuh yang nyata dimuka bumi, melainkan sahabat yang membutuhkan perhatian, dari mulai sampah organik dan anorganik bisa dimanfaatkan dan menghasilkan barang bernilai jual tinggi. Misalnya dari bungkus plastik jajan, kopi dan kebutuhan dapur lainnya, bisa dibuat menjadi ecobrik yang penggunannya bermacam-macam. Contohnya seperti ini


Cara buatnya simpel 


Atau dari bungkus  jajan bisa digunakan kerajinan seperti tas dompet




Memulai dari sendiri untuk meningggalkan plastik secara perlahan dengan langkah kecil. Menggerakkan kebaikan memang ribet perlu kerja ekstra untuk keluar dari kebiasaan yang kita lakukan. Mungkin banyak yang menyangkal baru satu orang aja yang melakukan apa dampaknya?. Kedengarannya sepele tapi jika dimulai dari satu gerakan diri sendiri dan kita sendiri yang ikut menyebarkan insyaallah pasti berdampak. Jangan menunggu gerakan kebaikan bersama-sama tapi mulailah dari diri sendiri untuk menebar gerakan kebaikan.
Dengan ikut berpartisipasi mengurangi sampah plastik, kita juga ikut menjaga ekosistem lingkungan sekitar demi kelangsungan makhluk hidup lainnya. Bumi kita juga perlu dirawat untuk masa depan anak dan cucu kita nanti.
Salam lingkungan sehat

Sidoarjo, 20 Januari 2019

Reactions
lylamanzila
Assalamua'alaikum Halo saya Alfimanzila Orang asli Sidoarjo Email: lylamanzila97@gmail.com

Related Posts

18 komentar

  1. Terima kasih untuk informasinya. Alhamdulillah sejak 2014 saya sudah mulai mengurangi penghunaan plastik. Meskipun agak sulit untuk mengajak anggota keluarga, tapi senangnya lagi, ada beberapa.komunitas dan iinstansi yang menggalakkan aksi diet plastik.

    BalasHapus
  2. saya sudah mulai pakai sedotan non plastik dan masih belajar banget untuk diet plastik

    BalasHapus
  3. Selalu salut sama ibu-ibu penggerak minim zero waste atau no plastic seperti ini. Jujur saya masih termasuk yang slebor jadinya masih suka menggunakan tisu. Sepertinya memang harus mulai berubah nih. Alhamdulillah kalau belanja bulanan sudah dengan tas daur ulang.

    Untuk sedotan saya juga sudah mulai mencari alternatif, untuk tisu nih harus mulai mencari kain perca nih kayaknya hehehehe.

    Terima kasih untuk informasi, tips, dan pengingatnya ya Bun ☺

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jujur ya saya masih muda dan masih kuliah...lah disebut Ibu Ibu

      Hapus
  4. Zaman kecil kayaknya memang jaraaang banget pegang atau pakai tisu..hihi. Sekarang, Subhanallah apa-apa dikit pake tisu. Pemakaian kantong kresek pun banyak banget...tapi supermarket sudah mulai menawarkan tas daripada kresek. Masalahnya masyarakatnya enggan...susah memang ya..

    BalasHapus
  5. Wah, wmamg plastik tuh penggunaanya mash dibutuhkan y. Tp klo meniru nergara lain yg menggunakan kertas untuk kantong blanjaan bs gak y? Js ingat ortu jaman baheula, klo mau ke pasar bw jinjingan sndiri. Mgkn bisa tiru, hehe

    BalasHapus
  6. Sepertinya kudu berjuang biar minim menggunakan plastik, sedotan udah jarang, tisue sama keresek masih sering digunakan. Untuk mengubah ini butuh waktu dan dibiasakan memang

    BalasHapus
  7. Saya masih harus banyak belajar soal mengurangi penggunaan plastik, karena saya termasuk yang apa2 dibungkus plastik.

    BalasHapus
  8. harus mulai memantapkan hati untuk berdaur ulang dan mengurangi menggunakan plastik dalam kehidupan niy mbak..terkadang aku belum konsisten menerapkannya..baru mulai berubah pada tas belanja doank hiks

    BalasHapus
  9. Saya sudah berusaha mengurangi penggunaan plastik ni Mbak. Kalau beli makanan juga suka bawa wadah sendiri. Saya pun bawa minum dg botol kalau bepergian. Membeli produk dg kemasan besar dibanding sachet. Meskipun belum sempurna.
    Btw ecobrick itu buat apa mbak? Hm. Menarik.

    Semoga masyarakat semakin sadar akan baiknya mengurangi sampah plastik ini, bersama ilmuwan dan pemerintah juga terus mengembangkan produk yg praktis untuk menggantikan plastik.

    BalasHapus
  10. Alhamdulillah di sekolah kami sudah melakukan sedikit demi sedikit mbak walau belum maksimal karena masih baru banget

    BalasHapus
  11. wah saya baru bisa "no Tissue", mbak. Program no plastik ini mungkin baru bisa dinikmati 20 tahun mendatang, Asal kita rajin mengkampanyekan kepada keluarga dan lingkungan sekitar. Semoga kampanye mengurangi sampah plastik ini berhasil di masa depan.

    BalasHapus
  12. Waduh, Saya masih harus belajar nih move on dari plastik, tisu, sedotan, dan benda2 lain yang di ulas di atas. Terima kasih sudah diingatkan ya Mbak.

    BalasHapus
  13. Sedang berusaha diet plastik juga, nih. Kalau no plastic sih saya belum bisa. Ya, sebenernya bisa dimulai dari hal-hal kecil seperti bawa bekal dan tumbler sendiri, ya.

    Oia, saya sudah mulai bikin Ecobricks juga, nih. Karena bikin tas daur ulang dari bungkus plastik belum bisa, jadinya dikemas jadi Ecobricks saja. Praktis :)

    BalasHapus
  14. Kalau saya paling suka bawa botol minum sendiri jadi nggak usah beli gitu. Jadi, selain hemat plastik juga hemat uit mbak. Juga kalau pas belanja bawa tas belanja sendiri yang bisa dilipat gitu lho, khan cute :D

    BalasHapus
  15. Saya juga suka marung alias makan di tempat. Karena lebih ringkas gak pelru bawa2 pulang si plastik. Selain itu juga malas nyucinya sih. Hehe.

    BalasHapus
  16. Saya sudah kurangi pakai sedotan mb. memang sampah plastik ini sangat penting untuk dipikirkan. Hebat artikelnya mb.

    BalasHapus
  17. Aku juga sedang mengurangi sampah pelastik nih, mba. Karena sampah pelastik sekarang sudah ada di mana-mana, mengotori dan bisa menjadi pemicu banjir jika dibuang sembarangan ke sungai.

    BalasHapus

Posting Komentar