#PrayforIndonesia begitulah tagar kepedulian netizen media sosial pekan ini yang sedang trending. Ramai-ramai netizen ikut bersuara atas keganasan Kebakaran Hutan dan Lahan (KARHUTLA) di Kalimantan. berhari-hari saudara-saudara kita di Kalimantan tidak bisa menghirup udara segar, tidak bisa beraktivitas, kesulitan bernafas karena harus mengenakan masker diluar rumah, sekolah terpaksa PJJ (Pembelajaran Jarak Jauh).
Belum lagi muncul pemberitaan MBG di Kawasan terdampak karhutla TETAP BERJALAN!!. Halo apakah ini pemikiran sangat logis? Dimana empati pemerintah disana?
Karhutla yang terjadi di pertengahan tahun Agustus dan September, puncaknya di bulan Oktober masih terpantau berlangsung. Apa penyebabnya karena masyarakat adat membuka lahan? Tentu tidak. Masyarakat adat membuka lahan ditanah yang benar, bukan di lahan gambut. Mereka paham betul kondisi struktur tanah mana yang layak dijadikan tempat tinggal.
Lalu siapakah yang menyebabkan karhutla? buang putung rokok sembarangan, anak kecil yang bermain bakar-bakaran atau ada oknum yang ditugaskan untuk memercikkan api kemudian ditinggal begitu saja. Hmm…jujur janggal!! Berdasarkan analisis Walhi menyebut 74% titik panas Kalimantan berada di area perusahaan.
Waduh perusahaan apa tuh? Perusahaan Sawit kah.
Kebakaran hutan dan lahan. Lahan apa yang terbakar? Lahan gambut atau kita mengenalnya tanah gambut. Tanah gambut merupakan jenis tanah yang terbentuk dari tumpukan sisa-sisa tumbuhan yang mengalami pembusukan secara lambat di daerah yang selalu tergenang air. proses pembusukannya membutuhkan waktu hingga ribuan tahun sehingga menjadikan gambut sebagai sumber daya alam yang sangat berharga.
Selain berfungsi sebagai media tumbuh tanaman, tanah gambut juga berperan penting dalam menjaga keseimbangan lingkungan. Gambut mampu menyimpan cadangan karbon dalam jumlah besar, mengatur tata air, serta menjadi habitat berbagai flora dan fauna khas yang tidak banyak ditemukan di ekosistem lain.
Kenapa gambut bisa terbakar?
Padahal tekstur tanah gambut itu becek seolah tergenang air. selama tanah gambut basah kuyup mustahil terjadi kebakaran. Dan realitanya lahan gambut sengaja dikeringkan melalui kanal-kanal yang sudah dibuat, agar akar sawit tidak busuk setelah ditanam nanti. Melalui kanal itu tadi air didalam lahan gambut dipaksa keluar, maka tumpukan kayu, daun kering dibawahnya menjadi kering kerontang. Sehingga saat terjadi kebakaran, api tidak hanya menjalar diatas pohon juga menjalar ke dalam bawah tanah.
Saat dilakukan pembasahan, yang basah hanya tanah bagian atas saja sedangkan dibawahnya masih menyimpan bara api. Mengingat tekstur lahan gambut seperti spons. Walaupun tanah dibasahi dengan cara menyuntikkan pipa air ke dalam tanah, akan sangat mustahil segera padam.
Solusinya adalah menutup kanal kanal dan membiarkan air kembali masuk ke lahan gambut. Namun realitanya banyak ujung kanal pada rusak dan tidak ada perbaikan.
Dampak yang Ditimbulkan Karhutla!
Kebakaran sudah terjadi. Siapakah korbannya? Nggak hanya manusia, makhluk hidup yang tinggal didalamnya turut berduka cita
Polusi udara dan kabut asap. Asap pekat mengandung partikel halus dan polutan berbahaya yang menurunkan kualitas udara serta mencemari negara tetangga.
Kerusakan ekosistem dan habitat. Menghancurkan tempat tinggal alami berbagai spesies flora dan fauna, yang berujung pada kematian satwa liar hingga ancaman kepunahan.
Degradasi sumber daya air. berkurangnya fungsi hutan sebagai penyangga hidrologi menyebabkan pencemaran sumber air bersih, sedimentasi sungai, serta meningkatnya risiko kekeringan saat kemarau.
Merusak biodiversitas sumber pangan. Dari hutan masyarakat bisa makan, bila hutan terbakar maka apa yang akan mereka makan?.
Misalnya Sagu. Sagu adalah sumber karbohidrat lokal yang dapat ditemukan di berbagai daerah Indonesia, terutama wilayah gambut dan pesisir. Mengkonsumsi sagu termasuk mendukung ketahanan pangan dan keberlanjutan lingkungan.
Bila hutan terbakar itu artinya stok sagu menipis bukan? Apakah ada alternatif pangan local didaerahmu selain beras? Ada dong diantaranya umbi umbian seperti: singkong, ubi jalar, talas, jagung, keladi, bengkoang, ketang, porang, garut.
Ada cerita unik tentang diriku yang tidak ingin makan nasi
Setelah berumah tangga dan tinggal beda rumah dari orangtua nyatanya menjadikan challenge baru. Apa hayo? Masak setiap hari. Nasi menjadi makanan wajib bagi kami orang Jawa. Belum makan kalau belum makan nasi, begitulan semboyannya.
Masak nasi untuk aku dan suami diawal pernikahan tentu masa indah dong. lain halnya dengan sekarang, nasi sisa semalam paginya aku hangatin. Berhubung sudah tinggal sendiri pengen sarapan tapi nggak harus nasi. Ngide dong bikin omlete cheese potato.
Cara buatnya simpel, kalian bisa cek di tiktok resepnya. Keju optional ya. Yang pasti ada kentang dan telur. Setelah matang diolesi saus dan mayones, enak banget dong. nggak kerasa lagi Kenyang sampai setengah harian loh. Fix deh cocok buat bekal diet kerja besok pagi sih.
Dari situ aku baru menyadari. Owh sarapan nggak harus pakai nasi kan!. Kalau kentang direbus oke saja. Melihat kondisi alam makin tahun makin tidak karuan, bisa jadi sumber pangan pun ikut terancam. Mau tidak mau manusia harus mencari pangan alternatif yang mana dari dulu nenek moyang kita sudah lebih dulu memanfaatkannya.
Melalui webinar ecobloggersquad x pantau gambut membahas soal Dari Gambut ke Meja makan, dampak dari karhutalan sanga komplek hingga memasuki dapur rumah tangga.






Posting Komentar
Posting Komentar