[recent]

Recent Post

3/recentposts

Glamping di Aone Trawas: Akhirnya Merasakan Sehari Tinggal Diatas Awan

Sudah menjadi agenda rutin kami (guru TPQ) tiap liburan semester anak-anak, gurunya pun harus meromantisasi sesama guru, guna tetap menjaga kewarasan mental guru. Please don’t jugde guru TPQ!!! Karena judge seperti itu sering aku dapet dikolom komentar media sosial.

Darimana dana bisa healing camp? Kami memilih jalur disebut nabung healing Rp.10.000/pekan. Kelihatannya kecil, kalau ditekuni ada hasil loh. Kalaupun nanti hasil tabungan belum mencapai target full, setidaknya kita sudah mengantongi beberapa rupiah sebagai bekal healing.

Seperti cewek-cewek pada umumnya, memilih lokasi healing perlu perdebatan panjang. Dari mulai destinasi ke Malang, makan-makan di resto, sampai poling terakhir tertuju camping di Trawas. Tiga orang setuju nge-camp, satu orang tidak, tetap kalah vote dong. Kesepakatan akhir adalah camping di Trawas.

Grup TPQ biasanya ramai karena pembicaraan anak-anak TPQ, tapi kali ini ramai soal tanggal keberangkatan. Keputusan pun terbit kita berangkat camp tanggal 4 Juli dengan tujuan Aone Trawas.

Berangkat Naik Apa? Belajar dari pengalaman camp sebelumnya, kita memutuskan naik motor boncengan. Bukan cewek kalo nggak plin-plan, H-3 berubah fikiran booking mobil setelah liat rute ke Aone banyak tanjakan mengkhawatirkan. Gedebag-gedebug lagi nyari mobil+sopir sekalian di tanggal 4 dan 5 Juli.

Perbekalan camp 2 hari seperti satu minggu! Pak Nanang sopir kami syok melihat barang bawaan camp untuk 2 hari wkwk. Dikarenakan pilihan glamping kita salah, alhasil kita membawa printilan masak dan bantal tidur dari rumah. “daging, sosis, kentang frozen nanti ditaruh mana kalo disana?”. sungguh pertanyaan lucu karena meribetkan ukuran termos yang akan dibawa wkwk.

Perjalanan satu setengah jam dari Sidoarjo ke Aone Trawas. Alhamdulillah cuaca sangat cerah sekali saat kami berangkat. Jam setengah tiga sore kami tiba di Aone. Diluar ekspektasi rame banget, niat hati mau mencari ketenangan eh malah keramaian di Sidoarjo pindah ke Trawas.

Di Aone Trawas tidak hanya menyediakan camp ground, terdapat café-café estetik yang menyuguhkan pemandangan alam luar biasa indah. Juga terdapat sky beach alias pantai buatan dengan tiket masuk Rp.50.000/orang. 

 

Hari menuju gelap, awan kabut semakin tebal menyelimuti area camping. Sebelum senja kami menyempatkan berjalan-jalan berkeliling menyusuri area Aone. Fyi kalo kalian datang kesini, tidak perlu menyediakan uang cash karena semua stand atau café hanya menerima pembayaran qris/debet. Hanya pembayaran tiket diperbolehkan cash.

Hari sudah berganti malam, area camp ground berubah tenang dan hening. Pemadangan city light dari kejauhan menambah kekaguman dalam hati. Tidak terasa angin dingin mulai merasuk ke tulang-tulang. 

Nge-grill adalah momen paling ditunggu saat camping. Setelah adzan isya’ kami berempat masak-masak didepan teras tenda sambal bercanda gurau kehidupan masing-masing. Momen bercanda tawa selepas ini tentu tidak akan kami dapatkan bila di TPQ. Berhubung angin semakin dingin, kami segera masuk dan menutup tenda untuk menikmati hasil masakan tadi.

Soal perdebatan termos tadi rupanya jadi lelucon abadi. Seharusnya nggak perlu bawa termos, karena di tempat camp itu sudah dingin. Cukup diletakkan di meja luar tenda, terkena angin malam sudah seperti di kulkas.

Semakin malam angin makin dingin. Tenda kami terus-terusan terhempas angin. Dua orang tidur mengenakan selimut, satu orang tidur pakai sleeping bag, sedangkan aku tidur berbekal jaket tanpa selimut. Karena sudah merasa pakai bawahan dobel jadi nggak mungkin dong kedinginan.

Apa yang terjadi besok pagi? Menyaksikan indahnya sunrise dari atas langsung masyaallah. This is first time momen dalam hidupku. Aku abadikan sendiri perjalanan matahari dari mulai malu-malu kucing sampai muncul dengan sempurna. Meski aku benci mendaki gunung, cukup dari Aone trawas aku bisa merasakan momen seperti para pendaki.

16° derajat cuaca saat shubuh. Kebayang kan dinginnya super menggigil!!!. Apa yang terjadi? Aku masuk angin wkwk efek semalam tidur nggak pakai selimut. Duh disitu rasanya nggak mau ngapa-ngapain, inginnya pulang. Hari sudah pagi teman-teman sibuk berfoto dengan background biru, sedangkan aku masih stand by di matras.

Benar-benar jadi pelajaran berharga sih. Nggak membaca kondisi tempat camp yang kita pilih sebelumnya. Rupanya Aone Trawas berada di ketinggian sekitar 1.300 hingga 1.350 meter di atas permukaan air laut (mdpl). Dengan lokasi di lereng pergunungan. Menawarkan udara yang sejuk dan pemandangan gunung Arjuno-Welirang yang menakjubkan.

Dua hari aku melupakan apa itu es teh. Menikmati segelas coklat hangat di waktu shubuh sangat membantu menghangatkan badan.

Berapa biaya Camp di Aone Trawas? Aku spill harganya dibawah ya 

Apakah worth it dengan harga camp Rp. 800.000 (tanpa alat masak + tanpa tiket masuk)? Kalau boleh jujur sih agak nggak worth it sih, seharusnya dengan harga camp tersebut sudah include peralatan dan perlengkapan. Tapi soal view nggak perlu diragukan juaranya Aone trawas. View city light saat malam hari + sunrise di pagi hari, sebanding kalo kamu ke Bromo.

Nggak cuma glamping aja, di Aone rupanya menyediakan villa estetik. Itu jadi pilihan buat kalian yang tidak kuat dinginnya malam hari.

Apa mau glamping lagi tahun depan? Nanti kita pikirkan sambil jalan, dan semoga Allah mengizinkan hamba mungil ini menikmati keindangan ciptaan-Nya.

 

 

 

lylamanzila
Assalamua'alaikum Halo saya Alfimanzila Orang asli Sidoarjo Email: lylamanzila97@gmail.com
Terbaru Lebih lama

Related Posts

Posting Komentar