[recent]

Recent Post

3/recentposts

Tipe-tipe Walimurid Ambil Rapot Sekolah Check!

18 komentar

 

Salam takzim untuk para pendidik dimanapun berada. Bagaimana rasanya setelah membagikan rapor siswa di hari sabtu, 24 Desember kemarin? Lega? Mental aman? Atau sudah melupakan momen terakhir sebelum liburan?. Wah super dag dig dug bukan. Pembagian rapor adalah momen pendidik menerima berbagai curhatan berbagai model. Selama satu semester siswa-siswi menempa pelajaran di sekolah dengan bantuan kerjasama orangtua di rumah.

Perlu diketahui rapor di sekolah anak zaman sekarang bermacam-macam dari mulai rapor akademik, rapor karakter, rapor keagaaman, rapot BTQ. Di sekolah daerah kalian banyak juga model rapornya? Yaps menandakan pendidikan Indonesia menuju kemajuan hmm. Aku bukan wali kelas ataupun guru mapel, tapi sebagai guru BTQ. Dulu aku kira BTQ mana mungkin ada rapornya? Waw yang kujalani sekarang BTQ ada rapornya.

Mengaji di sekolah sekarang ini menjadi jaminan mutu di beberapa sekolah bukan? Mengapa? Karena kebanyakan orangtua meyakini anak bisa mengaji sebagai bekal akhirat. Apalagi sekolah tersebut ada jaminan tahfidz, sebagian orangtua menginginkan agar anak menjadi penghafal alquran.

Semester I tahun ajaran ini rapor BTQ diserahkan oleh guru BTQ bersangkutan, berbeda dari tahun sebelumnya dimana rapot BTQ dititipkan ke wali kelas untuk diserahkan langsung ke wali murid. Pada saat itu beban lebih ringan karena tidak menerima curhatan, keluh kesah dari orangtua.

Sebelum hari H aku sudah memiliki gambaran apa yang harus saya sampakan bila orangtua menanyakan perkembangan mengaji anaknya. Aku merinci tipe-tipe walimurid saat ambil rapot

Slowy but friendly

Namanya orangtua wajar menanyakan perkembangan mengaji anaknya selama di sekolah, di satu sisi orangtua ini mengerti kondisi anak dan kondisi sekolah, misalnya kemampuan anaknya dibawah rata-rata dan model mengaji disesuaikan kemampuan dirinya. Sebagai guru tak lupa mengkomunikasikan tindakan apa yang dilakukan pada anaknya. Orangtua tidak banyak menuntut anak harus bisa jadi bintang, tapi dorongan dari kedua pihak yang membuat anak berlari lebih cepat.

Aku menjumpai walimurid ini bercerita, menangis beliaunya saat ambil rapor. Aku mengira aku salah berbicara tentang anaknya. Husnudzon aja mungkin terharu anaknya bisa sampai di tahap sekarang, setidaknya ada peningkatan sebelum memasuki sekolah ini.

Tidak banyak bertanya

Ada satu walimurid yang benar-benar aku takuti waktu pengambilan rapor. Walimurid dosen. Anaknya pindahan dari sekolah lain, masuk kelas alquran dengan aku sebagai pengajarnya. Tiap tugas BTQ at home di buku MAB selalu kosong tidak ada paraf orangtua, saat controlling BTQ video call di hari sabtu tidak pernah terangkat. Jadi kalau dihitung dalam satu semester hanya satu kali mengikuti controlling video call.

Sebelum hari H aku sudah menyiapkan speech khusus untuk walimurid satu ini. Profesinya dosen bayangkanku pasti dibabat habis pertanyaan macam presentasi mahasiswa diriku haduh. Ternyata setelah bertatap muka dengan beliaunya langsung, masyAllah takzim banget aku. Sopan, teduh, dan mengakui kesalahan yang dilakukan bahkan meminta maaf semester depan tidak akan terulang hal seperti ini lagi.

Honestly tidak bayak bertanya aneh-aneh, ah diluar ekspetasi aku sebelumnya. Ini jadi pengalaman pertama menghadapi walimurid dosen super mendebarkan. Realitanya beliau memposisikan sebagai walimurid mengambil rapor anaknya bukan sebagai dosen. Love sekebon <)

Buru-buru Karena Tuntutan Kerja

Ambi rapor cenderung satu orang, jarang sekali dua orang. Lihat siapa yang longgar, Ayah? Ibu? Nah buru-buru inilah pesan yang disampaikan tidak bisa dicerna dengan baik oleh walimurid yang mengambil rapor. Misalnya yang bertugas mengurus keseharian anaknya itu ibunya, nah yang mengambil rapor kebetulan Ayah karena ibu  tidak bisa ambil izin.

Yang mengambil rapor tidak faham apa yang disampaikan gurunya, pokok diambil selesai bisa lanjut kerja. Guru memang harus ketemu dengan orangtua untuk menyampaikan yang perlu disampaikan. Ada cerita kedua orangtuanya kerja tidak bisa ambil rapor, pulangnya sore. Gurunya pun menunggu sampai sore demi bisa menyampaikan hasil belajar anaknya itu sangat baik.

Wah masyaallah banget ya guru tersebut, beliau memahami posisi orangtuanya dan mau mengalah demi kebaikan bersama.  

Berekspektasi Tinggi Berujung Roasting Guru

Kalau sebelumnya yang aku takuti adalah walimurid dosen, ternyata aku salah malah walimurid yang kuanggap baik-baik saja mendulang banyak pertanyaan kepadaku. Beliau juga pindahan dari sekolah lain, masuk ke sekolah ini karena alasan ada tahfidz sekolah ini.

Awalnya aku menjelaskan perkembangan mengajinya, kemudian beliau mengapresiasi cara mengajar, kemudian membandingkan cara pengajaran sekolah A dan sekolah B, meminta pertanggungjawaban kenapa tidak sesuai kesepakatan di awal? Dalam hati aku melaksanakan tugas dari atasan selebihnya kenapa protes ke saya. Beliau mengatakan tidak seberapa mementingkan pelajaran akademik tapi lebih mementingkan alquran. Ya alhamdulillah banyak walimurid semakin aware dengan pendidikan agama.

Aku meladeni walimurid tidak terasa sudah lebih dari setengah jam, walimurid yang antri di belakang antri panjang sampai mau pulang. Mau tidak mau harus di cut pembicaraan. Mungkin ini sebagai pecutan, refleksi untuk diriku sebagai guru pendamping mengaji bahwa anak tidak bisa dianggap enteng, dia memperhatikan apa yang diucap, diperbuat oleh gurunya. Kedepannya harus diperbaiki, koodirnasi lebih ditingkatkan.

Momen berbicaranya tidak tepat karena yang mau ambil rapor kan nggak hanya satu tapi ada 45 orang lainnya.

Beda Topik

Ada loh saat penerimaan rapor harusnya membicarakan perkembangan anak malah membicarakan yang lain misalnya anak sudah berapa? Kemarin yang dapat arisan siapa?. Boleh bersenda gurau dengan walimurid, tapi alangkah baiknya waktu pengambilan rapor dipegunakan dengan baik, karena saat itu adalah saat terbaik pendidik menyampaikan pesan pelajaran secara live dan orangtua menyampaikan unek-unek pembelajaran anak saat dirumah.

Ribet buru-buru pulang

Walimurid ambil rapot sambil bawa anak. Masih kecil pula. Mana kalau ditinggal main kesana kemari. Kalau jatuh merengek ke ibunya. Pas ibunya lagi mendengarkan penjelasan gurunya. Alamat buru-buru pulang wkwk.

Dari semua tipe diatas sudah aku alami di hari Sabtu kemarin. Maka dari itu aku punya trik khusus saat pembagian rapot. Yang biasanya tidak pernah make up, tapi spesial hari pembagian rapor bertemu banyak orang, aku harus tampil beda untuk memotivasi diri sendiri. Karena itulah cara berhadapan  dengan banyak orang agar lebih percaya diri. Aku harus tampil dari jam setengah delapan pagi sampai jam setengah 12 siang. Bisa dibayangkan mulut ini in nggak berhenti ngomong sampai nggak sempat minum haha.

Selesai pembagian rapor rasanya lega banget, beban di pundak perlahan berkurang walaupun ada aja yang belum mengambil rapornya. Haturkan terimakasih kepada walimurid sudah meluangkan waktu mengambil rapor ananda sebelum memasuki liburan. Sampai bertemu di momen pembagian rapor semester depan.

 

 

 

lylamanzila
Assalamua'alaikum Halo saya Alfimanzila Orang asli Sidoarjo Email: lylamanzila97@gmail.com

Related Posts

18 komentar

  1. Bervariasi ya mba tipe wali murid ambil rapot anak di sekolah. Hhe, kadang kita jadi bisa ambil pelajaran dari tipe-tipe orang tersebut untuk dijadikan pembelajaran diri menjadi wali murid yang lebih baik.

    BalasHapus
  2. Hihihi, saya juga dulu punya pengalaman seperti ini mbak sewaktu masih jadi guru PAUD. Membayangkan kira2 bahan obrolan apa yang akan saya sampaikan ke walmur. Apalagi waktu itu ada salah satu walmur laki2 yang mempunyai jabatan di kantornya, auto saya harus bisa menjaga wibawa dan omongan, meskipun deg2an juga. Tujuannya agar tetap PD dan menguasai bidang yang kita tekuni ini. Pokoknya jangan sampai kelihatan grogi apalagi sampai bingung tidak bisa menjawab pertanyaan ya, hehehe.

    BalasHapus
  3. Pengalaman saya ini selama bertahun-tahun. Kadang malah diajak curhat lama. Padahal saya sudah berkali-kali mengalihkan topik ke perkembangan anknya. Emang unik-unik kok tipe walmur ini. Hehe...

    BalasHapus
  4. Seru ya kalau ngomongin wali murid, apalagi pas ambil raport anak. Kalau mba alfi sendiri masuk kategori yang mana nih mba?

    BalasHapus
  5. Unik banget ini, kak..
    Biasanya membaca dari POV orangtua, kini dari POV pengajar. Yang mana waktunya banyak dihabiskan untuk mengawasi sekaligus mengajarkan anak-anak ilmu yang bermanfaat.

    Barakallahu fiik~
    Semoga senantiasa diberikan kemudahan dan kesehatan untuk menghadapi berbagai macam jenis murid dan wali murid ya..

    BalasHapus
  6. Jadi senyum senyum sendiri nih karena sudah berstatus wali murid.. kalau saya mah type yang nggak bertanya langsung pulang

    BalasHapus
  7. Akhirnya bisa mendengar dari sisi guru ya, padahal seringkali banyak cerita dari sisi orangtua. Memang sebagai salah satu wali murid, aku memang melihat banyak tipe orangtua bagi rapot, ada yang cuek antara denger dan ngak penjelasan guru wali kelas atau ada banyak keluhan serta tuntutan wkwkwk. Kalau aku sih tipe santai dan cenderung lebih butuh masukan dari gurunya daripada berkeluh kesah soal belajar anak. Maklumlah guru harus menghadapi murid dengan beragam latar belakang dan sifat.

    BalasHapus
  8. Duh, jadi penasaran.. dari POV gurunya anakku, aku tipe yang mana ya.. hehe..
    So far sih berusaha jadi walmur yang ngga rese, ngga protesan, menyadari bahwa guru menjalankan tugas, sedangkan tugas orangtua bersinergi mendukung apa yang sudah diterapkan disekolah. Nggak apa-apa dibebankan ke guru/ sekolah.. eh kok jadi curat talah...
    makasih sharingnya mbak, jadi introspeksi diri nih, semoga aku bukan termasuk walmur yang membuat guru tidak nyaman ketika ambil raport

    BalasHapus
  9. Hehe iya ya, bisa unik unik tipe wali murid pas ambil rapot ini
    Kalau aku sih yang mau diskusi sewajarnya sama guru buat tahu perkembangan anak

    BalasHapus
  10. wkwkwk jadi tertohok nih aku, aku tipe to the point aja wis, kalau sudah selesai cabut
    bagi tugas sama suami, siapa yang bisa ambil rapot

    BalasHapus
  11. Baca ini jadi ketawa-ketawa sendiri. Saya kira-kira masuk yang mana ya. Kadang memang suka ikut gemes Mbak kalau ada orangtua yang konsul terlalu lama waktu pengambilan rapor. Padahal orang-orang tua yang lain antrinya sudah panjang bangett.

    BalasHapus
  12. ternyata macam-macam ya tipe emak-emak pejuang rapot anaknya, kalau saya kayaknya santai tapi detail nanyain perkembangan anak, bakal lama tuh bikin gurunya kesal hahaha

    BalasHapus
  13. Saya yg salah satu wali murid juga menyaksikan macam2 type ketika mengambil rapot...bahkan ada yg sampai setengah jam sendiri...hihi...saya sendiri bingung ..ngobrolin apa aja, ya. Untuk saya pribadi senang yg simple aja...dan langsung bertanya apa yg harus saya lengkapi untuk membimbing anak saya.

    BalasHapus
  14. Jadi ngakak aps bagian tipe wali murid ngga banyak tanya karena pekerjaanya dosen. Ngga semua dosen itu hobi tanya, kok.

    BalasHapus
  15. Hahaha bahasan yang sederhana tapi beneran loh emang kayak gini. Jadi mikir saya tipe apa...

    BalasHapus
  16. Ha ha ha... Aku masuk mana ya? 🤭. Kadang-kadang banyak tanya. Kadang-kadang harus cepat pergi. Kadang panjang ngobrol ngalur ngidul. Tergantung gurunya juga sih.

    BalasHapus
  17. Wah aku baru sadar kalau tipe wali murid beda-beda ya. Apapun tipenya semoga ibu guru dan wali murid bisa bekerjasama dan saling mengerti ya.

    BalasHapus
  18. Karena nggak ada anak yang sekolah, masih baru jadi ibu muda, ingatanku jadi ke masa lalu waktu sekolah diambilin rapor sama ibuk hehehe. Memang ya tipe-tipe gitu banyak sekali walimurid

    BalasHapus

Posting Komentar