[recent]

Recent Post

3/recentposts

Perbedaan Orang Desa dan Orang Perumahan

3 komentar


 

Memilih tinggal di desa atau perumahan tergantung kondisi lingkungan kecamatan yang aka ditinggali. Berdasarkan survey tidak sengaja, perumahan bisa muncul jika ada pemilik lahan melepaskan sawah atau perkebunannya kemudian dibeli oleh developer karena desakan ekonomi zaman. Bisa terjadi karena hasil yang didapat karena hasil bertani tidak sesuai biaya perawatan, hal itu menyebabkan petani memilih melepaskan lahan walau dengan harga kurang menguntungkan. 

Apakah salah jika pemilik sawah menjual tanahnya? Jawaban dilema memang, kondisi zaman semakin mahal biaya perawatan tidak sebanding dengan hasil. Pelan tapi pasti sawah-sawah beralih fungsi menjadi perumahan.

Sebut saja Desaku. Namanya desa Kemiri, masih melekat sebutan Desa, tapi jangan tanya berapa sawah masih tersisa? Bisa dihitung dengan jari.

Aku masih ingat waktu kecil, hamparan sawah mudah ditemui di desaku, apalagi pas tanam garbis di bulan puasa cukup dengan uang 10 ribu bisa dapat garbis satu karung. Atau jika petani sudah meninggalkan tanduran garbis karena dirasa sudah tidak produktif, aku dan teman-teman leluasa mencari garbis sisa yang belum dipetik.

Sungguh indah memang hidup berdampingan dengan alam walau hanya sebentar, setidaknya dalama hidupku pernah merasakan nikmatnya udara dingin dari alam bukan dari AC.

Yang pertama lahir adalah pedesaan atau Desa. Dengan sejumlah kultur, budaya terbentuk bersama masyarakat dari sikap gotong royong, toleransinya yang kuat. Kemudian perumahan lahir, disebut masyarakat perkotaan identik dengan gaya hidup mewah, open minded, minim komunikasi antar tetangga.

Secara tidak sadar ada semacam pandangan berbeda baik dari sisi orang desa atau orang perumahan. Sekalipun dulunya pernah tinggal di desa  kemudian pindah ke perumahan atau sebaliknya, ada saja perumahan gaya yang tampak saat kita berbicara dengan bahasannya.

Beberapa kategori ini bisa menunjukkan perbedaan orang desa dan orang perumahan.

Disebut kampungan. Bukan rahasia lagi, orang desa selalu dianggap kampungan, keterbelakangan, ketinggalan zaman, susah di ajak berkembang. Berbeda sebutan orang perumahan, gaya bicaranya bahasa Indonesia saklek, banyak sekali orang pintar kanan-kirinya.

Aku melihatnya tidak bisa naif, perbedaan itu jelas sekali adanya. Jika anak desa atau kampung gaya biaranya ngoko, tapi mereka punya sisi kesopanan yang tidak dimiliki anak perumahan. Misalnya ketika ngomong dengan orang lebih tua dia tidak akan pakai “koen” dia tahu harus menggunkann kata “sampean” atau “njenengan” menggunakan jawa alus. Dimana bahasa itu digunakan untuk mengormati orang lebih tua.

Berbeda dengan orang perumahan identik bahasa indonesia full sehari-hari, sehingga perbedaan berbicara antara kecil, sampai dewasa menggunakan “kamu” batinku berbicara: ngomong dengan orang lebih tua pakai “kamu”, itu salah satu kelemahannya.

Lebih menyedihkan lagi jika anak memanggil ibunya tambahan "kamu" nyess  gitu rasanya hati ini, ibu sendiri dibilang "kamu".

Anak desa punya malu tidak bisa membaca alquran. Fenomena ini kutemui di sela-sela mereka belajar ngaji di TPQ. Ada santri di kelasku sudah kelas 6 SD dia menimpali temannya yang izin ngaji pulang cepat karena harus les bahasa inggris.

“Aku loh gak seneng pelajaran bahasa inggris, opo maneh lek digandeng-gande is, are ngunu iku” (aku loh nggak suka pelajaran bahasa Inggris, apalagi kalau di sambung is, are itu)

Aku menjawab “gak popo masio gak isok, engkok nang kuburan malaikat gaka takon gawe bahasa inggris what’s your name”. (tidak apa nggak bisa, nanti di kuburan malaikat nggak akan tanya pakai bahasa inggris what’s your name)

“Iyo Bu yo, seng penting isok moco al quran”. (iya Bu ya, yang penting bisa baca alquran)

Aku tertawa mendengan jawaban mereka, kalau dipikir betul juga. Kita diminta mempelajari semua ilmu dunia sampai lupa mempelajari ilmu bekal akhirat nanti.

Bisa kalian bandingkan dengan anak perumahan, mempelajari al quran itu nomor ke sekian, les matematika, les bahasa inggris nomor satu. Pergi berangkat ngaji ke TPQ dibilang kampungan, banyak mainnya kalau ngaji di TPQ. Memilih manggil guru ngaji ke rumah, apa yang terjadi? Seperti guru ngaji nggak ada harga dirinya karena merasa itu rumah dia sendiri, bebas dia bertindak seenaknya. Mohon maaf kesannya bukan guru ngaji, kalau itu anak kecil kita harus ikutan mengatur mood dia, kalau dewasa karena paksaaan orang tuanya harus belajar ngaji, ketika ngaji tidak ada rasa greget untuk semangat mengaji.

Walaupun tidak semuanya tapi kebanyakan rumah yang ku jumpai kurang lebih seperti itu. Jika orangtuanya pengertian sangat kooperatif tentunya, lain cerita jika orangtuanya acuh yang ada kita malah kena tegur kalau memberika penekanan agak kasar. Padahal tujuannya adalah kebaikan.

Orang perumahan terkenal dengan gaya mewahnya. Kalian boleh setuju atau tidak statement ini. memang bangunan perumahan bagus, keren, tiap rumah setidaknya ada mobil. Hal itu yang mendorong orang tinggal di perumahan berlomba-lomba menjadi terlihat kaya.

Disebut orang sosialita. Kalau orang desa disebut rumpi atau nonggo. Orang desa terkenal suka nonggo, gosip membicarakan orang-orang yang lagi hist di minggu-minggu ini.

kalau kategori ini nggak di desa atau perumahan kurang lebih sama-sama ada, hanya di perumahan agak jarang karena udah sibuk di dalam rumah masing-masing. Maklum semua sudah tersedia di dalam rumahm, tanpa harus keluar rumah, kalau bosen tinggal keluar pergi ke Mall.

 

Rumah harus di pagar.  Identik tiap rumah harus dipagar bahkan seakan tertutup dari dunia luar. Jadi ingat filosofi orang dulu, ada yang pernah mengatakan akan datang zaman dimana kalian tidak akan saling menyapa kanan-kiri. Pelan-pelan kalimat itu terkabul, baik perumahan atau kampung semua berlomba-lomba membuat pagar tinggi agar timbul rasa nyaman untuk harta bendanya.

Memang zaman sudah berubah, tujuan bangun pagar salah satunya agar rumah jauh dari hal kehilangan harta benda. Berpikir positif meskipun pagar rumah tinggi tidak akan menganggu silaturahmi antar tetangga untuk nggosip eh ngbrol maksudnya.

Namun ada perumahan yang menerapkan model tidak memakai gerbang. Salah satunya di Kabupaten Sidoarjo, sudah bukan rahasia kan tiap rumah motor lebih dari dua, kadang mobil lebih dari dua, dan itu tanpa pagar. Memang aman? Insya allah aman, model perumahan kan nggak jauh-jauh dibuat cluster satu pintu kayaknya untuk memberikan rasa aman.

Ditambah perumahan itu mengharuskan anak laki-lakinya harus pergi ke masjid untuk sholat fardlu berjamaah. Wagelass kagum menyaksikan, first time bagiku. Pengalaman ini didapat karena menjadi guru privat ngaji di perumahan tersebut.

Boleh di acungi jempol juga pemilik developer properti ini memiliki aturan cukup ekslusif. Mungkin maksud mereka menyediakan hunian kota beraroma desa jadi rasa aman, persaudaran harus tercium juga, bedanya kalau disini harus bayar satpam, bayar lampu jalan, bayar kebersihan taman depan perumahan.

Anak kampung tidak bisa gabung dengan anak perumahan. Saya sendiri sebagai anak kampung merasakan dan menyaksikan betul fenomena ini, entah kenapa selalu saja ada perbedaan diantara mereka. Padahal mereka pun bisa sekolah di tempat yang sama, beli jajan di tempat sama, tapi tetap saja ada kesan perbedaan tidak setara.

Kebetulan TPQ tempat aku mengajar berdampingan dengan perumahan. Alhamdulillah ada beberapa anak perumahan ngaji di TPQ Nurul Huda. Karena anak kampung terkenal memiliki label kasar, dipasangkan dengan anak perumahan yang biasa pribadinya adalah halus, nah jadinya ada rasa tidak senang.

Bagaimana aku mengatasinya? Bagaimanapun baik mereka anak perumahan atau anak kampung tujuan mereka satu yaitu mengaji, jika ada tingkah laku berlebihan sebagai pembimbing cepat mengingatkan atau menegur.

Kalau anak kampung ditegur keras tidak masalah, susahnya kalau anak perumahan ditegus keras sedikit besoknya udah nggak datang lagi. Tapi nggak semuanya kayak gitu hehe.

Ada yang bilang anak perumahan lebih berani. Statement ini kudapat dari orangtua yang hidup di lingkungan perumahan. Menurutnya, anak perumahan lebih berani meminta pertanggungjawaban jika menurut dirinya tidak melakukan kesalahan dibanding anak kampung jika sedang ditindas ia akan berkata  “yasudahlah”.

Kesimpulannya adalah memilih tempat tinggal baik itu di desa atau kota tetap memiliki perbedaan mencolok, dengan sejumlah gaya kehiudupan telanjur di bingkai oleh kebiasaan yang sebenarnya kita tidak menginginkan mungkin.

Hanya saja jika sudah memutuskan akan tinggal dimana, tentu sudah harus menentukan resikonya akan seperti apa. ada orang yang memilih tinggal di kampung agar kela jika meninggal banyak orang yang membantu, mengantarkan ke peristirahatan terakhir. Ada yang memiih tinggal di perumahan merasa lebih aman karena ada security dibanding kampung yang kadang mudah kemalingan. 

sebagai anak desa aku bangga di sebut anak kampung, walau kadang disebut anak kurang modern setidaknya aku tahu cara beretika dengan orangtua daripada pintar berbicara untuk berkelit.

Jadi ingat di surabaya ada Kampung Tangguh saat boomingnya Coronavirus untuk pencegahan penyebaran virus, lah itu pakai nama Kampung, ada nggak ya perumahan tangguh? hehe

lylamanzila
Assalamua'alaikum Halo saya Alfimanzila Orang asli Sidoarjo Email: lylamanzila97@gmail.com

Related Posts

3 komentar

Posting Komentar

Follow by Email