[recent]

Recent Post

3/recentposts

Refleksi Akhir Pekan [1]

Posting Komentar


Bismillahirrohmanirrohim kali ini saya ingin berbagi cerita kepada kalian semua tentang secuil adegan hidup yang sudah saya lalui dan temui sengaja atau disengaja dalam sepekan. Besar harapannya agar adegan yang sudah saya lalui bisa diambil hikmah kemudian dijadikan pelajaran bagi pembaca semuanya.

Ayah dan Ibu tiap bulan selalu menghadiri pengajian rutin di salah satu Pondok Mahasiswa di Surabaya namanya Al Jihad, diasuh oleh KH. Imam Chambali. Salah satu program di pondok itu bernama Dasa (Dana Sosial). Program kebaikan semacam tabungan akhirat, yakni mengajak para jamaah maupun masyarakat umum untuk berinfaq di jalan Allah secara rutin tiap bulan, bisa melalui rekening atau dijemput oleh petugas.

Yang sudah berpartisipasi alias berdonatur, pihak Dasa akan memberikan semacam reward bagi para donaturnya, misalnya berupa majalah, payung dan sisanya aku lupa, disesuaikan dengan jumlah nominalnya. Bertepatan ini akhir tahun, ibuku dikasih kalender 2021 alhamdulillah.

Nah walaupun orang tua saya sudah berkali-kali ikut pengajian belum, ternyata belum ada keinginan untuk gabung Dasa. Baru 3 bulan terakhir ini ikut program dasa, hal itu ku ketahui dari bukti kwitansi yang tergeletak di ruang tamu.

Adegan ini yang membuat mata dan hati terkejut bukan kepalang. Kalau biasanya yang menyerahkan uang kepada petugas Dasa itu orang tuaku, kali ini aku yang dititipi untuk menyerahkan uang.

Kukira yang bertugas mengambili uang Dasa itu semacam Bapak-Bapak, eh ternyata masih muda masih mas-mas kuliahan gitu. Terkejutnya bukan disitu, tapi dari cara berbicara, menyampaikan maksud kepada orang lain itu yang sangat sopat sekali, kalau ada level 100 koma satu, mungkin mas itu masuk level itu. asli deh tutur bahasa jawa halus, ditambah sikapnya saat pembicaraan dipotong Ibu masih terlihat sopan kebangetan.

Kaget dong, suara hatiku ikutan berbicara nih jadinya

“Wagelash dia yang tugasnya ngambilin uang dari para donatur, waktunya nggak sampai semenit tiap rumah, halus bicaranya dan sopan kelakuannya, sedangkan aku yang profesinya pendidik nggak bisa semanis dan sehalus itu kalau sama wali murid yang ngeselin. Tapi mas petugas itu ramahnya bikin damage”.

Setelah petugas itu pergi, kepo dong aku. Tanya ke ibu, “Yang ambil uang ke para donatur memang masih muda-muda Bu?”.

Ya iya, santri-santri yang mondok di situ, masih kuliah biasanya. Kadang gonta-ganti orangnya, nyantri disitu harus siapa mengabdi di pondok.

“Terus kalau gaya berbicara memang gitu Bu?”.

Ya iya lah, di sana itu nggak ada orang jahat, judes kayak sampean, semua santrinya sopan-sopan. Memang di didik Bu Luluk (istri pengasuk pondok) seperti itu untuk menghargai orang, jadi manusia itu harus bertutur halus dan lembut pada siapapun.

Secara Ibu tahu semua, rutin tiap bulan pengajian di pondok.

Dari adegan pendek itu ada hikmah yang bisa kita ambil, 1) bertindak sopan, bertutur kata lembut dan sopan dengan siapapun tanpa memandang status, 2) tetap rendah diri walau dipuji sesaat, 3) tamparan keras bagi yang nulis ini, karena kadang tidak bisa mengontrol diri jika bertemu orang menjengkelkan, 4) belajar mengurangi sikap judes terhadap orang lain.

Setiap tempat adalah pelajaran, setiap waktu adalah kesempatan. Tidak akan ada perubahan dalam diri kita sendiri, jika tidak mau memulai detik ini. Terimakasih sudah menyempatkan waktu membaca refleksi akhir pekan kali ini. Sampai bertemu di refleksi akhir pekan berikutnya.

 

Reactions
lylamanzila
Assalamua'alaikum Halo saya Alfimanzila Orang asli Sidoarjo Email: lylamanzila97@gmail.com

Related Posts

Posting Komentar

Follow by Email