SELAMAT DATANG SOBAT

SELAMAT DATANG SOBAT... SEMOGA TULISAN INI BERMANFAAT, MELEMBUTKAN HATI DAN PIKIRAN KALIAN, JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK DI KOLOM KOMENTAR OKEH:)

Begini Jadinya Kalau Ngelamun Saat Berkendara



Pohon-pohon besar ditebang. Coba deh kalian amati pas kalian lewat jalan raya, disebelah kanan-kiri jalan raya di tanam pohon-pohon lumayan besar. Kalau pas cuaca panas uluh-uluh sungguh kenikmatan haqiqi bisa terkena aura dingin dibawahnya. Apalai pas berhenti di traffict light pas disampingnya banyak pohonnya udah deh pada rebutan minggir karena ingin mendinginkan hati dan pikiran sejenak sambil nunggu TL berubah hijau, kalau naik motor loh ya. 

Pas musim penghujan datang, udah deh DKRTH mulai melakukan parampingan ranting-ranting pohon di pinggir-pinggir jalan. Kalau sepengamatan saya, nggak cuma dirampingkan pohon itu, juga di habiskan daunnya. Syukur malah daun-daunnya hilang tinggal batang pohon besar doang. Iya itu kalau bisa menumbuhkan daun lagi nah kalau tidak yasudah gundul kagak ada daun. 

Kebayang nggak sih kalian melakukan perjalanan yang disamping kanan kiri jalannya jarang sekali ditanami pohon-pohon. Panas banget iyeesss. Udah polusi udara tengan kota bikin hidung ngap-ngapan ditambah suhu bumi makan panas, makin meningkat aja emosi manusia pas berkendara. Berarti nikmat dan sangat beruntung jika pohon itu tidak ditebang. Manfaatnya besar bagi pengendara motor dijalan raya. 

Pohon juga memiliki peran penting saat terjadi angin kencang. Saat terjadi angin kencang jika sekeliling rumah kalian ditanami dengan pepohonan entah itu pohon sono, ketepeng ataupun mangga maka angin itu akan disambut oleh pohon-pohon tersebut dan tidak akan langsung melewati pemukiman rumah. Maksudnya pohon-pohon tersebut sebagai benteng dari rumah. 

Kemudian hal yang membuatku bertanya-tanya “pohon-pohon di sekitar jalan raya jika sudah memasuki musim penghujan harus ditebang?”. Memang gitu harus ditebang semuanya?, kadang menebang pohonnya membuat pohon itu tidak menumbuhkan daunnya alias mati total pohonnya. Ya memang sih kalau pohon udah lebat daunnya ditakutkan bisa roboh dan mengenai kendarannya pas dibawahnya. 

Jalan tol selalu ada kenaikan. Tax on Location atau disingkat tol, jalan bebas hambatan yang pada keseringannya juga bisa terjadi kemacetan. Bangga gak sih di Indonesia dibangun banya jalan tol? nggak juga. Coba deh kalian ingat-ingat pemadangan saat melintasi jalan tol ini, pemadangan yang ada adalah perkebunan, sawah, masih aroma pedesaan. Itu artinya jalan tol dibangun melintasi pedesaaan, dimana kehidupan mereka masih tergantung dengan pola sederhana yang berbanding terbalik dengan orang perkotaan. Maksudnya saya merasa para kontraktor yang membagun jalan tol dengan melewati desa-desa memiliki misi khusus. 

Harga tanah didesa tentu relatif murah. Mana ada jalan tol yang yang kanan-kirinya masih bertahan menjadi pedesaaan? Mbelgedes kagak ada. Pelan-pelan sawah, kebun yang ada disekitar jalan TOL berubah menjadi bisnis-bisnis properti. Coba jika kalian melihat iklan-iklan yang bertebaran selalu ada kalimat “perumahan Grand..... bebas KPR, Free AC tiap kamar, berlokasi strategis tengah kota, dekat dengan gate TOL*”. Nah gimana ada yang pernah mendengar iklan semacam itu. bukan bermaksud saya merendahkan kalian yang tinggalnya di kawasan perumahan dengan fasilitas taman dan keamanan. Tapi melihat sisi lain dari kenapa dibangun pemukiman bermodel perumahan.


Memilih menggunakan jalan Tol tergantung pribadi masing-masing, ku masih ingat betul ucapan guru geografi saat SMA “Harusnya semakin tahun jalan Tol semakian digratiskan bukan malah semakin mahal” hmm gimana ya? kejadian nggak sekarang?. Ada beberapa pantauan kecil dari sudut pandangku tentang jalan Tol ini.

Dikelola pihak jasa marga. Yang sepertinya pendapatan tol tidak masuk seluruhnya dalam kas negara. Sekarang tidak lagi menggunakan uang cash, beralih menjadi kartu bayarnya alias e-money hmm kenapa ya? apakah ada aroma perlahan-perlahan ingin menghilangkan wujud uang yang sesungguhnya? Atau memang yang punya jalan tol pihak swasta dari luar yang menggunakan embel-embel pemerintah untuk memperkaya diri Wallahua’lam.

Pelan-pelan Desa-desa disulap menjadi perkotaan dengan dalih janji ketebukaan, modern tidak ketinggalan jaman. Dimana udara sejuk semakin ditinggalkan dan akan segera berganti dengan pemukiman. Yang dulunya sawah ada dimana-dimana, dengan hadirnya jalan tol yang melayang diantara dua desa perlahan-lahan melahap jatah sawah yang harus ditanami petani. Dan sebagai gantinya bangsa Indonesia yang kaya akan alam berubah menjadi kaya akan jalan Tol. Ketika stok pangan menipis pemerintah terseok-seok membuka kran impor beras ke negara tetangga. Padahal bangsanya sendiri bisa menghasilkan stok pangan sendiri. Apalagi di tengah pandemi Covid19 stok pangan menipis dan kran impor tidak mungkin untuk dibuka, eh Bapak Presiden meminta membuka lahan baru untuk menanam padi. Eh halooo tidak salah Pak Presiden pernyataannya, harusnya optimalkan dulu lahan yang masih ada jangan terburu-buru buka lahan baru. Membuka lahan baru jika tidak segampang buka toko langsung jualan harus melalui tahapan kecocokan dan dampak yang dihasilkan. 

Proyek gorong-gorong menganggu kenyamanan pengguna jalan. Baik pejalan kaki, pengguna roda dua, roda empat atau lebih. Ini nih sering banget di jumpai di jalanan jika menjelang musim penghujan dengan alasan biar nggak banji makanya digali lebih dalam. Alasan itu masih wajar, yang bikin geregetan adalah setelah di gali gorong-gorongnya, bekas galiannya itu ditinggalin nggak segera diangkut. Disamping menimbulkan debu berlebih, pemandangan tidak sedap, sangat menganggu lalu lintas karena memakan sepertiga badan jalan. 

 
Dan lebih parahnya lagi, gorong-gorong barusan dibangun, atau dibedah eh seminggu kemudian dibedah lagi. Sempat mendengar informasi bahwa pekerjaan gorong-gorong itu ada berbagai macam pihak atau tendek. Misal pihak pertama yang mengerjakan Telkom, ada lagi PDAM. Harusnya itu kalau mau bedah koordinasi dulu, biar pekerjaan itu sekalian jalannya. Bukannya baru aja trotoar pinggir jalan dibedah  eh udah dibedah lagi. Hadudu bikin kemacetan lagi dan lagi


Kenapa pengguna jalan tol hanya untuk roda 4 atau lebih?. Masih menjadi misteri, kenapa sepeda motor gak boleh masuk jalan tol? apa karena sebuah labelling kalau pengguna motor itu miskin nah kalau pengguna mobil termasuk kategori sugih? Padahal sepeda motor kan juga dilegalkan di jalan raya umum. 

Usut punya usut ada aturannya ternyata tentang jalan tol ini. Berdasarkan peraturan Pemerintah Nomor 15 Tahun 2005 Pasal 2, defininisi jalan tol adalah jalan umum yang merupakan bagian sistem jaringan jalan dan sebagai jalan nasional yang penggunaan diwajibkan membayar tol. pihak yang boleh menggunakan jalan tol adalah pengguna kendaraan bermotor. Lebih rinci lagi pada Pasal 38 Ayat 1 dijelaskan jalan tol hanya diperuntukkan bagi pengendara roda empat atau lebih.

Jalan tol dirancang dan dibangun untuk kepentingan kendaraan roda empat dengan kecepatan antarkota 80 km/jam. Pengendara motor juga bakal bermasalah dengan empasan angin dari kendaraan lain yang sengaja dibuat tanpa hambatan. 

Analisinya jalan tol dibangun di dalam negeri indonesia, kenapa harus dibatasi? Kalau jalan bepergian lebih cepat dengan jalan tol dan hanya punya sepeda motor kenapa nggak boleh? Kenapa pengecualian yang mobil doang? Dan kenapa harus berbayar toh jalannya juga sama seperti jalanan pada umumnya. Kalau misalnya pengendara motor dibutkan jalur khusus sepert di jembatan penyebrangan Suramadu kenapa tidak? Seakan-akan diskriminasi buat pengguna sepeda motor. Kalaupun untuk roda empat atau lebih kenapa bayar, dalam negeri sendiri kok bayar? Udah bayar pajak, mau lewat aja ditarik uang lagi. Kayaknya kita diperas di negri sendiri lewat pajak yang beginian. 


Untuk bisa menikmati bebas hambatan harus punya uang untuk bayar, apa namanya kalau bukan menunjukkan strata sosial. Kembali lagi tujuan kenapa dibangunnya jalan tol? untuk mempermudah perjalanan warga negara atau untuk bisnis semata?.

Haha itulah beberapa seliweran di otak saat asyik-asyiknya nyetir di jalan naik sepeda motor. Sampai-sampai hanya jalam 20 km/jam ada di lajur tengah karena terlalu memaknai saat melintas gate tol tengah kota. Hehe jangan ditiru ya. naik kendaraan bermotor harus fokus jangan ngelamuam. Kalau ngelamunin masa depan sama kamu hayuk boleh aja wkwk.

Sumber:
Kompas.com/Aturan Resmi Jalan Tol, Motor Tidak Boleh Melintas

Tidak ada komentar:

Posting Komentar