Tags

[recent]

Recent Post

3/recentposts

Pengalaman Pertamaku Mengajar Sebelum di Wisuda

Posting Komentar

 
freepik.com
 
Ada yang mengatakan "Enak ya jadi guru kerjaan ngajar doang, pulangnya bawa bingkisan" kalau ketemu orangnya langsung sudah ku semprot air galon tuh orang. Gajah di pelupuk mata tidak terlihat tapi semut dilautan tampak jelas, begitulah peribahasanya. suatu kehormatan dan kesenangan sesaat di waktu-waktu menunggu wisuda mendapat amanah menjadi guru pengganti di salah satu sekolah dasar swasta berbasis Islam. Loh kan jurusannya PAI, kok ngajar anak SD? iya maka dari itu namanya kesempatan, masih dalam lalu lintas yang sama. Mendapat kesempatan mengajar mengamalkan ilmu di di TKP langsung adalah hal yang cukup familiar disamping sehari-hari kebiasaanku mengajar privat bedanya kali ini tanggung jawab dan target lebih tampak mata ketimbang aku ngajar privat. 
  
Saat mendapat tawaran mengajar menjadi guru pengganti di sekolah, tanpa pikir panjang langsung ku iya kan. karena bagiku ini adalah kesempatan emas yang tak boleh disia-siakan dan terlebih penting tidak berpikir seberapa besar resiko yang akan ku terima nantinya. setelah meleati penantinan cukup panjang sekitar 1 bulan lebih. dipanggillah ke sekolah untuk menghadap petinggi alias atasan di sekolah tersebut. ternyata yang menjadi guru pengganti ada 5 orang sekalian dengan diriku sendiri. alhamdulillah tidak sendirian. 
 
Menjadi guru pengganti bidang studi tematik ditempatkan di kelas 3. Kelas peralihan anak-anak manja ke anak-anak yang harus belajar tanggung jawab. Dibutuhkan kesabaran, hati, pikiran dan tenaga menghadapi anak-anak yang berumur sekitar 9 tahun kurang. Terlebih mulut anak-anak suka jujur kalau berbicara berterus terang. Siap-siap saja selalu memasang muka setebal mungkin. Disamping tugas kewajiban sehari-hari adalah mengajar ternyata ada beraneka ragam tugas guru ketika di sekolah. Alhamdulillah sekolah tempat ku mengajar fullday school tiap hari bisa dipastikan sampai rumah pasti jam 5 sore. Terlebih lagi sekolah ini termasuk sekolah yang sangat menanamkan nilai karakter dan moral pada peserta didiknya. Dari mulai pembiasan mengucap salam ketika bertemu Ustad dan Ustadzah saat berjalan di dalam lingkungan sekolah, pembiasaan baris-berbaris setiap pagi di depan kelas masing-masing sebelum masuk ke kelas. 

Dan alhamdulillah lagi bulan disaat aku menggantikan mengajar di sekolah, berbarengan juga kegiatan persiapan akreditasi sekolah.Wauuw its gonna be amazing kata Ria Ricis. otomatis mau tidak mau sebagai guru pengganti harus siap menyesuaikan dengan ritme sekolah tersebut. Persiapan akreditasi sekolah ternyata sama rumitnya dengan persiapan akreditasi fakultas di kampus ku saat itu. Tapi hal itu semua merupakan pelajaran berharga sekali yang kudapat.
 
Waktu sudah berjalan satu bulan, masih kurang 1 bulan lagi tugasku akan selesai. Dalam kurun waktu satu bulan tersebut ada banyak hal-hal penting yang baru kutahu dalam dunia kerja pendidikan di sekolah. Kukira awalnya bekerja di lingkungan pendidikan itu memiliki resiko rendah eh ternyata tidak semudah itu ferguso. Berikut beberapa yang kurasakan saat bekerja di lingkungan pendidikan

Jika di minggu-minggu awal sebagai guru pengganti semua akan nampak baik-baik saja. Tapi ketika sudah masuk di minggu ke tiga sampai seterusnya suasana perlahan berubah. Yang awalnya nampak terlihat baik mau menjawab pertanyaan saat kita sedang posisi kebingungan tidak harus dibawa kemana tugas ini. Bisa dibilang masih minggu toleransi. Lain waktu lain cerita memang betullll. Mungkin orang yang selalu kita mintai tolong sudah bosan dengan kita yang selalu bertanya selalu. Kalau tidak bertanya bisa salah jalan kita tapi kalau bertanya keseringan ya begitu jawabannya. tanda-tandanya sangat terlihat jelas dari mulai ketika bersalaman senyumnya tidak sangat nampak tulus, ketika berpapasan tidak terlihat senyum ikhlas yang ada justru membuang muka.  

Memikirkan tugas masing-masing. masing-masing guru memang sudah mengerti job disk dan memegang tanggung jawab nya masing-masing. Tapi akan nampak berbeda  saat orang baru yang langsung diposisikan sebagai pengganti dituntut harus mengerti dengan cepat tugas-tugas apa yang harus dilakukan di sekolah tersebut. Jika secara tidak sengaja terjadi ketidakcocokan resikonya adalah menjadi bahan perbincangan dari ujung barat sampai kembali ke ujung timur lagi. wuhh semacam perang dingin yang tidak direncanakan. Masya Allah menegangkan eh menyeramkan sih lebih tepatnya. apalah daya, dihadapan orang lain wajah dan badan harus terlihat tegar walau sebenarnya hati dan pikiran sedang tidak baik-baik saja.

Perasaan tidak sedap. pernah merasa nggak sih, ada pada posisi seakan-akan kita sendiri yang tidak tahu harus melakukan apa-apa dan orang lain bersikap jual mahal. jika kita sendiri tidak memiliki inisiatif bertanya siap-siap aja tenggelam dalam genangan kebingungan. nah itu yang kurasakan saat ini. lingkungannya saja pendidikan penuh dengan maaf, tapi jika tidak sengaja berbuat kesalahan siap-siap pasang muka sebaik mungkin biar kuat menanggung pahitnya kicauan mulut kelas sebelah hehe.

Hal yang baru kutemui didunia pendidikan terutama disekolah adalah antar guru ada grup atau kelompok. sebenarnya tidak masalah ada hal seperti itu, ambil sisi positifnya mungkin bisa memudahkan koordinasi antar beberapa guru. nah sisi negatifnya bisa kalian jawab sendiri ya.

Di awal pertemuan saja wakasek nya mengatakan "Nanti kalo kebingungan jangan sungkan-sungkan bertanya kepada guru-guru yang lain, insyallah dibantu" nah beberapa minggu kemudian ketika ditanya jawabnya sungguh tidak menyegarkan ditambah raut muka yang tidak sedap dipandang. alhasil ketika kita membutuhkan keperluan entah itu perangkat, media pembelajaran bertanya tentang kegiatan dijawabnya tidak mengenakkan kalau tidak jawabannya akan dilempar ke yang lain alias disuruh bertanya kepada yang laen, ketika ditanya pada guru lain jawabnya pun sama muter-muter. betul atau betul?, silakan dijawab sesuka hati kalian.

Dunia guru penuh dengan maaf. memang betul sekilas dimaafkan untuk seterusnya bisa jadi bahan gunjingan. yah apalah daya jalani saja, cuma sementara ada dilingkungan ini dikuatkan lagi mentalnya biar kuat menghadapi kenyataan. dicibir lewat depan terima saja, disindirin dari belakang bersikap saja bodo amat. yang penting kita masih punya Allah untuk tempat curhat.

Hanya saja, punya pemikiran seperti itu gak gampang gaess, mungkin waktunya hanya 2 bulan tapi kalau dirasakan itu lama loh gaess. setiap mendapat perasaan tidak enak selalu berusaha positif aku kudu kuat, ingat ini ini ujian, ambil yang baik untuk dijadikan pengalaman, jangan berfikir untuk membalas. boleh dibalas dengan karya, siapa tahu melegakan mata hati orang yang bersangkutan.

Tujuannya menulis semacam ini adalah ladang untuk memperoleh pahala dan pengalaman yang insyaallah menyenangkan, selain itu agar bisa menjadi referensi teman-teman yang akan mengajar di sekolah. memang setiap pekerjaan ada sisi positif dan negatif, tinggal bagaimana diri sendiri yang mengkonsumsi dan memanfaatkan dengan baik. agar sisi negatif tidak terlalu banyak menguasai suhu pikiran dan hati kalian.

Ambil momen positif, jadikan momen negatif adalah suasana yang tertunda. karena hal yang tertunda biasanya berakhir dengan kesegaran. (Alfimanzila)

*** 
Akhirnya yang ditunggu akan segera berakhir. iya  masa purna tugas alias tugas pengajar pengganti selesai yeayy. lalu rasa apa ya, yang enaknya ditinggalkan? kesedihan, kesengan atau keburukan. oh tentunya harus yang baik-baik dong. masa purna tugas tinggal 2 minggu lagi. itu artinya masih ada waku untuk melakukan hal-hal baik  agar setelah selesai nanti memiliki amal jariyah yang pahalanya terus mengalir. di awal-awal sebelum menjalankan tugas melihat 2 bulan itu rasanya kok ya lama banget. eh pas dijalankan nggak terasa berlalu cepat sekali. oke ku akan share pengalaman emas yang kudapat dari selama mengajar di sekolah full day school di sela-sela penantian wisuda diantaranya adalah:
 
1. Mendapat kesempatan langsung mengamalkan ilmu kuliah di sela-sela menunggu wisuda
2. Belajar mata pelajaran SD lagi
3. Beradaptasi dengan lingkungan sekolah yang sesungguhnya
4. Belajar menata akhlak bersama warga sekolah 
5. Belajar tentang pemberkasan akreditasi sekolah
6. Belajar agar menjadi contoh yang baik bagi warga sekolah
7. Bukan hanya tugas mengajar tapi kembali belajar

sebenarnya sekolah full day adalah hal yang baru bagiku, karena sejak SD-SMP-SMA tidak pernah merasakan bagaimana atmosfer sekolah full day. hanya waktu PPL-Magang lah baru pertama kali merasakan mengajar di sekolah full day.  alhamdulilah sebuah keberuntungan emas, yang dulunya aku hanya anak yang sekolah di sekolah tidak full day sekarang merasakan sendiri sekolah full day.

Karena sedari awal tidak seberapa tahu background sekolah tempatku mengajar, alhasil aku menganggap sekolah ini sama seperti pada umumnya. eh pas ku tahu cerita dari ustadzah yang lain ditambah tidak sengaja melihat bingkai bertuliskan "Sekolah Swasta Rujukan terbaik di Sidoarjo" mak jleb rasanya hatiku. ternyata sekolah mehong alias mewah. 

widih baru tuh merasa merinding, Allah memang nggak main-main kalau memberikan sesuatu. sebelum sah menjadi mantan mahasiswa bergelar pendidikan harus lebih dulu terjun ke lapangan merasakan panas dinginnya ruangan kelas.


dokumen pribadi





Reactions
lylamanzila
Assalamua'alaikum Halo saya Alfimanzila Orang asli Sidoarjo Email: lylamanzila97@gmail.com

Related Posts

Posting Komentar