.jpg)
Rabu 17 Juni 2026 menjadi acara puncak bagi sekolah MI Progressive Baitul Muqorrobin. Pelepasan kelas 6 dan penampilan seni dari kelas satu sampai kelas 5. Acara dimulai pukul 08:00 dibuka tarian saman dari Aceh sebagai pembuka acara.
Acara ini dibagi menjadi dua sesi. Sesi pertama rangkaian pelepasan siswa kelas 6 dimulai dengan tarian persembahan dari kelas 4 dan 5. Pebacaan SK Kelulusan, lanjut prosesi kelulusan, lanjut penampilan paduan suara kelas 6 menyayikan hymne guru, lanjut prosesi sungkeman kepada orangtua untuk meminta maaf dan memohon restu dan acara ditutup dengan doa.
Sesi kedua dimulai pukul 12:00. Untuk sesi 2 memang dikhususkan full pentas seni dari kelas 1 sampai 3. Tarian nusantara sukses ditampilkan diatas panggung hotel halogen.
Melihat kekompakan dan kepercayaan diri siswa-siswi tampil eksotis diatas panggung menunjukkan bahwa kerja keras para wali kelas mendampingi latihan dari berbulan-bulan yang lalu terbayar lunas. Hampir semua penampilan mereka sukses memukai seisi tamu undangan.
Meski saya bukan sebagai wali kelas mereka tetap ikutan bangga dan terharu menyaksikan kemeriahan tari-tarian mereka. Kebetulan saat acara Haflah Akhirussanah sedang bertugas sebagai operator. Alhamdulillah berkesempatan duduk di posisi depan menjadi pengarah audio tarian siswa-siswi. Berkesempatan menyaksikan puas dan leluasa tari-tarian yang ditampilkan.
Beberapa hal sempat mengacak-acak pikiranku saat acara diantaranya:
Apakah mungkin dulu bila ada kegiatan seperti ini kedua orangtuaku bisa hadir? Melihat anak-anak didampingi dan disupport kedua orangtua mereka saat tampil diatas panggung bikin hatiku sedikit sesak. Ingat sekali dulu orangtuaku selalu menganggap selain ujian dan ambil rapot adalah momen tidak penting. Baginya acara pentas seni atau tampil diatas panggung dianggap tidak penting, hanya buang waktu saja.
Melihat para orangtua super excited mengabadikan momen buah hati sedang menari membuat hati kecilku semakin teriris. Apakah orangtuaku dulu punya perasaan bangga seperti orangtua saat ini?. tapi aku harus membuka mata lebar, mungkin zaman dulu dan sekarang berbeda. Selalu berpikir positif mungkin orangtua zaman sekarang lebih menanamkan support pada anak-anaknya dibanding orangtua dulu.
Ternyata perlahan tumbuh menjadi dewasa inner child muncul dengan sendirinya bila waktu dulu belum tuntas terpenuhi. Momen bikin sesak lagi adalah seelah anak tampil kemudian turun panggung dan menghampiri orangtua, ada yang bersorak-sorak bangga bahkan sampai memeluknya. Argkh aku nggak suka, karena aku tidak diperlakukan seperti itu.
Aku ingat betul jawaban apa yang aku dapatkan bila mengikuti prosesi acara di sekolah. Tapi yasudahlah cukup tau dalam hatiku saja.
Peran guru wali kelas saat anak didiknya tampil diatas panggung sebagi koreografer didepan. Siswa satu kelas yang tampil didepan fokus tujuannya adalah guru yang didepan. Bila ada salah satu siswa lupa gerakannya saja, pandangan pertamanya langsung ke guru yang didepanya. Hanya dengan kontak mata guru walas didepannya mampu membantu membangkitkan kepercayaan anak didinya yang sedang tampil.
Luar biasa memang kontak batin antara wali kelas dan anak didiknya. Keberhasilan dan kepercayaan berhasil terbangun berkat didikan yang selama ini ditanamkan kepada mereka.
.jpg)





Maaf memangnya dulu orang tuanya anti hiburan gitu ya?
BalasHapusAmbil raport kan biasanya kalau semester akhir sekaligus acara perpisahan atau kenaikan kelas yg selalu diselingi pentas kreasi anak...
Apapun inner child yang pernah dialami semoga saat ini bisa membuktikan kepada anak kita kalau mereka jangan sampai merasakan hal tidak baik yg pernah kita rasakan ya...
Seseru itu acaranya yaa!! Jadi ingat daku kalu perpisahan di sekolah pasti ada pentas seni. Jadi throwback banget ini mah.
BalasHapusAcara seperti haflah dan pentas seni memang selalu punya suasana yang spesial. Selain menjadi momen perpisahan atau penghargaan, kegiatan seperti ini juga menjadi wadah bagi anak-anak untuk menunjukkan bakat dan kepercayaan dirinya. Seru juga melihat pendidikan tidak hanya tentang akademik, tapi juga memberikan ruang untuk kreativitas
BalasHapusPeluk jauh ya, Kak. Nggak semua orang tua akan bangga dengan pencapaian anaknya. Nggak perduli sekecil apa pencapaian itu.
BalasHapusBanyak juga yang nggak perduli. Dan itu bukan cuma kakak. Tapi, nggak papa.
Ayo kita usahakan anak-anak kita mendapat full support dari kita orang tuanya.