[recent]

Recent Post

3/recentposts

Refleksi Akhir Pekan [5] – Dia Akhirnya Kembali Datang

14 komentar

taman pendidikan alquran

Alhamdulillah bertemu di akhir pekan kembali, rasanya cepat banget baru aja senin sudah ketemu sabtu lagi. Dunia semakin cepat berputar, orang tua bertambah tua, anak makin dewasa makin sibuk urusan pekerjaan dan keluarga barunya. Mau bagaimana lagi roda kehidupan bakal berputar seperti itu. Kehidupan seperti sedia kala berangsur kembali, sekolah mulai menerapkan tatap muka full 100 persen asal pemakaian masker tidak boleh kendor.

Harusnya senang karena semua berangsur pulih, tapi kok justru sedih diriku huhu. Saat pandemi jam sekolah dibuat terbatas anak-anak TPQ malah ramai karena jam pulang sekolah mereka jam 12 siang. Sore harinya bisa berangkat ngaji ke TPQ. Sekolah yang menerapakan full day terpaksa memotong jam belajar hanya setengah hari saja.

Alhamdulillah cukup banyak loh anak-anak TPQ dar sekolah full day, tapi setelah semua kembali sedia kala. Beranjak pula mereka meninggalkan TPQ satu persatu karena alasan jam pulang mepet dengan jam mulai masuk TPQ, atau karena jam pulangnya mepet ditambah capek pula kalau harus berangkat mengaji.

Atau meski yang bukan sekolah full day, mereka mulai mrotol dari TPQ karena jam pulangya makin sore ditambah tugas-tugasnya banyak. Orang tua nggak tega juga memaksa si anak berangkat.

Lalu bagaimana menyikapi fenomena seperti ini? Agak dilema kasus ini, disatu sisi covid datang membawa kebaikan saat covid pergi malah kelabakan. Untuk mereka yang masih duduk di tingkat dasar berangkat mengaji adalah perkara mudah mungkin bakal tersendat kalau sudah duduk di kelas 6.

Apalagi sudah masuk SMP anak-anak berangkat ke TPQ jadi aras-arasen, mereka sendiri merasa tereliminasi alam seolah terdoktrin sudah masuk SMP tugas banyak, pasti capek, mending mengaji di rumah saja. Ya bukan bermaksud menjelekkan mengaji di rumah, kalau kalian mengamati belajar lebih menyenangkan sendirian atau bersama-sama, tentu lebih seru rame-rame, sama halnya dengan mengaji.

Mereka alias remaja-remaja yang mampu bertahan adalah anak-anak pilihan berhasil menyingkirkan ego, rasa malu berbaur dengan adik-adiknya. Sudah jadi hal lumrah, TPQ hanya untuk anak-anak bukan untuk remaja atau dewasa. Batas anak mengaji di TPQ hanya sampai kelas 6 SD, lebih dari itu kemampuan akademik adalah nomor satu.

Masyallah hatinya digerakkan Allah

Saat pandemi beberapa bulan lalu ada santri baru namanya Intan, di sekolah full day kelas 8. Masuk di kelas jilid 5, aku sendiri yang mendampinginya. Alhamdulillah ada beberapa anak perempuan umurnya tidak beda jauh dengan mbak Intan ini, semangat ngajinya masih tinggi-tingginya.

Sampai pada titik dia bosan mengaji sepertinya, lama sekali tidak kelihatan datang ke TPQ sampai terdengar berita sekolah kembali tatap muka 100 persen, mbak Intan tak juga berangkat ke TPQ. Saat ku hubungi orangtuanya, dia malu datang ke TPQ karena cuma dia umurnya tua sendiri lainnya anak-anak.

Apalah dayaku menyemangati orangtuanya agar memotivasi anaknya tetap mengaji, karena sayang kalau terhenti di tengah jalan. Tepatnya kemarin, jam 5 tepat kelasku sudah selesai tinggal beberapa anak pulang terlambat untuk menuntaskan target hafalan, mbak Intan berdiri di depan pintu. Malu-malu mau masuk, kemungkinan takut sudah lama tidak datang ke TPQ.

Masih mengenakan seragam sekolah sambil menenteng totebag tipis khas mbak Intan, agak kikuk mengeluarkan buku jilid 6 dari totebag. Senyum-senyum untuk menepis kecanggungan saat mengaji, ya ku tahu ciri dia seperti itu wkwk.

Sudah mau berangkat ke TPQ sudah masyaallah luar biasa sekali, apalagi langkah berangkatnya tidak karena diminta orangtua tapi dari hatinya.

Orang sudah dewasa berangkat mengaji bukan lagi alasan permintaan tapi krentekan hati yang digerakkan Allah

Di hari kedua aku berharap sekali dia datang lagi mengaji, alhamdulillah dia datang lagi masyallah. Dulu dia masih kelas 8 sekarang dia sudah kelas 9 SMP itu artinya tugas makin banyak, banyak ujian pula. 

tpq di sidoarjo

“Kamu berangkat kesini disuruh mama atau berangkat sendiri?”. Berangkat sendiri, tuturnya.

Adem gitu mendengarnya, akhirnya Allah mengetuk pintu hati mbak Intan. Risikonya ada di jam pulangku, kalau jam 5 seperempat sudah otw pulang sekarang harus sabat mengajari satu siswa lagi.

Berkorban demi orang lain itu susah, walau begitu yang buat kesepakatan itu adalah diriku. Kasihan kalau anak mengajinya terputus, akhirnya aku mengalah silakan mbak Intan datang jam 5 sore kutunggu begitulah chat dengan mamanya. Jam pulang sekolah full day 16.45 kadang sampai rumah maghrib. Semoga minggu makin istiqomah, niatnya di kuatkan oleh Allah.

Semoga sedikit cara ini bisa jadi amal jariyah kelak di alam kubur, kelak suatu saat nanti aku bisa jadi bahan cerita unik untuk kehidupan mbak Intan di masa depan aamiin.

Ruginya Saat Tua Nanti

Lagi trend postingan nakalnya telat, jadi mengingatkan salah satu teman SMA identik kerudung panjang, rajin bawa quran tiap jam istirahat. Siapa sangka dulunya di tomboy, berpakaian ala laki-laki jauh dari namanya agamis sampai ketika masuk sekolah bernuansa agama dia berhijrah pelan-pelan.

Postingan tersebut menjudge harusnya kita itu nakal dulu baru berhijarah eh heloow kalau Allah ngasihnya jalan luruh-lurus ya terima aja. bukan berarti mereka yang tidak nakal jalan hidupnya tidak semewah mereka yang pernah nakal. Eits tiap mansuia memiliki track record sendiri termasuk track record mengaji di TPQ saat kecil.

Hayo kebanyakan pasti pernah? Memasuki dewasa sudah lepas alquran, memasuki usia 30 ke atas putar balik ingin belajar alquran lebih serius, sayang lidahnya kaku. Sering terjadi, memasuki usia 40 an orang mulai sadar pentingnya membaca Al quran.

Ketika cari pengajar alquran kesusahan, kalau bisa cari pengajar alquran tidak di lingkup tempat tinggalnya. Seperti kasus yang ku pegang ini, Ibu rumah tangga minta mengaji video call, mohon maaf bacananya amburadul. Rasanya mengaji via video call nggak akan cukup, ingin rasanya ku datangi rumahnya kupinjami buku jilid UMMI.

Mengajar ngaji anak-anak dan dewasa hawanya itu loh beda. Kalau anak-anak disuruh mengulang berapa kali mau aja, nah kalau orang dewasa disuruh mengulang lebih dari tiga hawanya kayak sudah gagal mengajinya.

Hasratnya ingin bisa baca alquran secara baik dan benar, kenyataanya selama dia baca quran sendiri bacaan banyak kesalalah. Alangkah lebih baiknya belajar ulang menggunakan buku jilid karena akan lebih mudah dipahami dari dasarnya.

Kenyataannya orang dewasa malu bila mengaji pakai buku jilid seperti anak-anak.

lylamanzila
Assalamua'alaikum Halo saya Alfimanzila Orang asli Sidoarjo Email: lylamanzila97@gmail.com

Related Posts

There is no other posts in this category.

14 komentar

  1. Dulu jg pas kecil ngaji di tpa tp saya termasuk yg gugur soal.y krn kegiatan sore di sekolah akhirnya berenti tpa, tp alhamdulillah pas sekolah menengah aktif lagi

    BalasHapus
  2. Alhamdulillah dari kecil memang harus dibiasakan mengaji. Kalau jam ngajinya di tempat saya untuk SMP dan SMA setelah magrib jadi masih bisa ikut serta. Memamg lelah tapi pada semangat. Waktu kuliah jam ngaji bisa pilih sore atau malam habis isya. Bertahap. Untuk anak TK dan SD siang dan sore

    BalasHapus
  3. Tulisan ini menamparku juga ini mbak, semakin dewasa seperti disibukkan dengan banyak hal, keinget pas kecil rajin TPQ meski niatnya biar gak dimarahi orangtua saat itu..

    BalasHapus
  4. Agak tertampar yaaa dengan fase meninggalkan Quran saat dewasa dengan dalih kesibukan, padahal kesibukan dunia yang melenakan TT__TT

    BalasHapus
  5. Masya Allah .. jadi terharu membaca tentang Mbak Intan ... semoga semangat terus ya, Mbak ... semoga jadi perempuan shalihah .... semangat terus ... ustadzah-nya selalu semangat juga lho mengajarnya, jangan kalah semangat yaaa :*

    BalasHapus
  6. Wah hakjleebb bgt ini mbaaa

    Daku juga udah masuk.usia senja
    Harus lebih semangat ngaji yaaaa

    BalasHapus
  7. Pernah di masa ini. Jadi bernostalgia deh saya

    BalasHapus
  8. Memang lebih baik mengaji bareng saat anak-anak biar lebih semangat. Ketemu temen-temen lain dan belajar dari kecil itu ibarat mengukir di atas batu. Pasti bakal lebih diingat anak sampai ia dewasa

    BalasHapus
  9. Inspiratif banget kisahnya. Jadi ingat anakku diajak tetangga biar ke TPA barang-barang, tapi ajakannya belum kuiyain

    BalasHapus
  10. Masya Allah mbak keren banget sih
    .benr jika mengajari orang dewasa dan anak2 itu snagat berbeda. Jika dipandang dr sudut pandang psikologi emang faktor oengaruh di ornag dewasa banyak jadi lebih susah

    BalasHapus
  11. Aku juga waktu udh masuk kelas 5 sd males2an ngaji di sekolah agama. Tapi tetep dipaksain, dan Alhamdulillah sampe sekarang masih diamalkan ilmu sekolah agama. Berguna banget untuk pengingat diri

    BalasHapus
  12. Jadi inget masa kecil dulu kalau ngaji di dekat rumah bareng kawan-kawan memang lebih asyik. Sekarang pengen lagi nih mendalami ngaji biar lebih mantab kalau ngajarin anak

    BalasHapus
  13. Iya nih Mbak, kadang waktunya hingga anak-anak saya ngaji ke saya aka habis Maghrib, memastikan anak-anak mengaji itu penting banget ya? karena masih muda masih dini mereka mudah untuk diarahkan dalam mengaji.

    BalasHapus
  14. Saya jadi ingat dengan ex teman2 SMA yang sengaja kumpul untuk belajar membaca Al Qur'an lagi saat ketemuan. Ada 1 di antara kami yang memang kesehariannya jadi ustadzah dan mengajar banyak ibu-ibu untuk mengaji. Dicek dong bacaan kami semua, terus diklasifikasikan ada yang pakai buku jilid 1, ada yang 3, ada yang 5. Kami tidak malu untuk belajar lagi, sama-sama belum pandai semua soalnya.

    BalasHapus

Posting Komentar