[recent]

Recent Post

3/recentposts

Review Episode 1 I Love You Silly, Banyak Adegan Tidak Pantas Untuk ditiru Anak Sekolahan?

11 komentar

 

Yeaaah aku comeback setelah mati suri beberapa minggu karena suatau keadaan. Kebiasan umat sekarang sebelum tidur adalah scrolling time instagram, eh banyak bertebaran  cuplikan adegan web series I Love You Silly. Bintang pemeran dalam series I Love You Silly adalah Prilly Latuconsina lagi, dipasangkan dengan aktor tampan berusia 27 tahun, bisa dipastikan seris ini akan meledak lagi, sebelumnya series My Lecture My Husband bersama lawan mainnya Reza Rahardian sukses menjadi trending topik pencarian di aplikasi WeTV. So gimana sih jalan ceritanya? Adegan cinta seperti apa sih yang disajikan? Ada adegan yang dilarang? So mari kita lanjut.

Nggak afdol dong, nonton web series belum baca sinopsis!!. Kunci sebuah cerita, penasarannya penonton ya di sinopsis ini. Yuk kita intip.

Lily seorang gadis SMA naif yang seringkali mengesampingkan kepentingan dirinya sendiri tak jarang dimanfaatkan oleh sahabatnya sejak SMP, Jourdy. Oleh teman-temannya terutama Mira, Jourdy dianggap parasit bagi Lily. Mira kemudian mengenalkan sepupunya, Jojo pada Lily. Sifat Jojo yang lebih dewasa dan menayomi menjadi landasan utama Mira bawah Jojo adalah pililhan yang tepat. Jojo yang juga memiliki perasaan terhadap Lily, memanfaatkan kedekatan Mira sebagai jalan dirinya mendekati Lily.

Sementara itu, ada pula siswi baru estetik bernama Gia yang menarik perhatian Jourdy. Gia yang pemberani dan menjadi daya tarik tersendiri buat Jourdy. Ia makin penasaran karena Gia berbeda dari perempuan kebanyakan yang ia kenal. Rama sobat Jourdy pun menyambut baik kehadirannya di lingkungan pertemanan mereka. Hadirnya Gia dan Jojo diantara Lili dan Jourdy menjadi pemantik penasaran mereka yang sebenarnya terhadap satu sama lain. Ternyata selama ini perasaan yang mereka miliki lebih dari sekadar sahabat.
 


Ada adegan apa aja sih?

Diawali adegan pertengkaran antar sekolah, kita semua pasti sering melihat tayangan  bahkan lihat secara live tawuran antar sekolah bagaimana, nah begitulah bayangannya. Lanjut adegan memberikan nafas buatan lewat mulut, gimana reaski kalian? wah jelas pro kontra. Setingkat SMA sudah disuguhkan adegan ciuman. Memang pertolongan pertama jika sewaktu-waktu ada yang tenggelam dan kehabisan nafas. Tapi adegan itu seolah-seolah adegan bersentuhan dua bibir menjadi lumrah dalam tayangan tersebut.

Lily siswa polos yang sering dimanfaatin oleh sahabatnya, Jourdy. Bukan karena kebetulan, kerap kali dalam satu kelas pasti bisa ditemukan satu dari sekian siswa atau siswi polos. Yang mana mereka gampang disuruh-suruh, dibodohin. Peran Lily disini sangat mewakili kondisi lingkaran pertemanan remaja sekolah. Kalau saja ia tidak berteman dengan orang yang bisa mendampinginya, Mira, sudah dipastikan Lily jadi bulan-bulanan teman-temannya.

Tidak ada manusia yang ingin dilahirkan memiliki sifat polos seperti Lily, tidak ada orang tua yang menginginkan anaknya berteman dengan anak yang orangtuanya terlibat kasus mafia. Jourdy, sahabat dari kecil Lily selalu ia anggap justru sering memanfaatkan dirinya dari mulai membantu memberi alasan palsu di depan kepala sekolah, ngasih pinjaman uang taruhan, sampai membelikan bensin motor Jourdy saat balapan. Kalau aku ada di posisi orang tua Lily juga pasti delima, melihat anaknya bahagia bisa tertawa lepas bersama teman masa kecilnya, di sisi lain orang tua dari anak teman dekat Lily bisa mengancam nyawa Lily.

Karena cerita I Love You Sily ini, erat hubungannya kasus mafia buronan polisi salah satunya ayah Jourdy. Mau tidak mau, Jourdy anaknya ikut terkena imbas saingan mafia ayahnya, sering terlibat tawuran dengan anak buah saingan ayahnya.

Adegan yang bikin gua miris lagi adalah Gia, disebut cewek pemberani karena berhasil melawan anak-anak yang hampir melecehkan dirinya. Melawannya nggak pakai aksi bela diri lagi, tapi pakai rantai besi di hantamkan ke wajah anak itu. uhhh ngeri, sadis, termasuk bukan adegan untuk ditiru sekelas anak sekolahan. Setingkat anak sekolahan membawa benda-benda terlarang ke sekolah, uh sangat tidak pantas untuk ditiru.

Balapan motor sambil taruhan. Balapan motor antar siswa dan siswi untuk memperebutkan kekuatan dan ketenaran di sekolah. Jourdy siswa yang sudah terkenal keonarannya melawan Gia, siswi baru yang lagaknya jagoan. Masih SMA mainannya udah balapan sama taruhan.

Merokok di lingkungan sekolah. Fix, siswa satu sekolahan tidak ada yang nggak merokok, pasti ada satu atau dua. Dalam seris ini jelas banget adegan merokok, itu diperankan Jourdy, kedua oleh Gia. Dan gilanya lagi merokok di area sekolah rame-rame sama gengnya.

Kesimpulannya

Seris I love You Silly ini diperuntukan untuk remaja 18 tahun keatas, lho ko bisa? Bukannya ini cerita anak millenial, lucu, banyak drama. Karena banyak adegan-adegan kategori kenakalan remaja, kekerasan fisik sampai tekanan mental. Kalaupun ada yang ingin menonton wajib banget tidak boleh sendirian bagi yang di bawah umur.  Walaupun seris I love You Silly ini sangat relate dengan kondisi nyata, seris ini bukan cuma tentang persahabatan dan percintaan, tapi efeknya menyasar lebih dari itu.

Sekolah ada lingkungan kedua anak-anak setelah keluarga, habit di rumah tidak bisa diterima mentah-mentah oleh lingkaran pertemanan sekolah. Dunia sekolah tidak seindah, tidak semulus kasih sayang Ibu kepada anak. Apalagi sosok Lily disini adalah cewek polos yang ketika di rumah hanya punya satu sahabat dari kecil, tanpa ia sadari arti kata sahabat pelan-pelan tergerus badai percintaan. Tidak ada persahabatan antara laki-laki dan perempuan setelah masuk gerbang dewasa, semua akan berubah.

Dilihat dari episode 1 I Love You Silly, sudah mulai tertebak maksud cerita ini untuk siapa. Yaps untuk Alya Nila Siranadewi alias Silly alias Lily panggilannya. Seris ini sepertinya dibuat untuk pengingat bagi orangtua, teman, menunjukkan gambaran pertemanan itu tidak sesimpel yang mereka lihat. Terlebih setelah ia keluar dan bertemu lingkungan baru, dia dilepas bebas bergaul dengan teman-teman barunya. Coba kalian bayangin kalau bertemu sosok Lily di dunia nyata, anggap aja wajah dan karakter sama seperti seris, masih beruntung karena parasnya cantik. Lain cerita kalau anak polos itu punya karakter culun, tidak menarik, fix kemungkinan yang ia hadapi adalah bullying.

Pesan untuk teman-teman adalah dunia ini tidak bisa takluk dan tunduk atas kemauan kalian, dunia ini punya karakter dan misteri yang sudah digariskan, sama halnya karakter pertemanan kita boleh memilih tapi tidak menentukan.

lylamanzila
Assalamua'alaikum Halo saya Alfimanzila Orang asli Sidoarjo Email: lylamanzila97@gmail.com

Related Posts

11 komentar

  1. Baca dari review di sini saya sudah ilfil untuk melihatnya. Hehehe...
    Terimakasih informasinya ya
    Suka sedih dengan xerita perfilman atau sinetron Indonesia yang bukannya mendidik hal baik, malah mencontoh hak yang seharusnya dihindari.

    BalasHapus
  2. Baca ulasan ini ko serem banget kalau sampai ditonton anak-anak remaja kita ya mbak🙈
    Timbul pertanyaan, apakah ini memang merupakan potret remaja zaman sekarang?

    BalasHapus
  3. Aku ngikutin serial ini. Rencana mau review juga kalo udah selesai seluruh episodenya. Overall aku sangat sangat suka sama ILY mba. Cuma memang, serial ini menurutku lebih pantas ditonton orang tua ketimbang anak usia sekolah, SMA. Bermanfaat banget menurutku untuk belajar parenting, khususnya memahami anak remaja tanggung kayak Silly, Jourdy, Gia, Mira, dkk.

    BalasHapus
  4. Ceritanya khas remaja banget sih, dalam komik atau novel hal ini lumrah, tapi kalau dibuat versi live gini adegannya memang agak2 gimana gitu ya, mungkin untuk menarik minat para remaja yg nonton kali ya :)

    BalasHapus
  5. merinding juga baca sinopsisnya.
    banyak adegan kekerasan.
    tapi ya mba zila, film kartun anak jaman sekarang pun ada juga yang kurang pantes buat anak-anak.
    miris sekali ye kan...

    BalasHapus
  6. Buat orang dewasa (seumuran saya, hehe) mungkin film ini cocok saya nikmati, ya. Tapi, jangan deh kalau buat remaja. Namanya anak di bawah umur, pastinya belum bisa menyaring tayangan media.

    BalasHapus
  7. Kenapa yaa film utk anak sekolahan Indonesia kok malah gak cocok dg budaya dan fakta yang ada di Indonesia. Mana ada pemberian nafas buatan sesama anak sekolah berlawanan jenis trus jd biasa ciuman, apakah anak sekolahan di Amrik tuh... terima kasih sudah menuliskan review nya Mbak

    BalasHapus
  8. Wah serem gitu ya, adegan kekerasan padahal efeknya bisa ditiru anak-anak usia sekolah yg jiwa masih mudah terhasut dg hal-hal beginian biar kelihatan keren.

    BalasHapus
  9. Serem juga ya kak nonton film ini. Syukurlah sudah baca review nya. Jadi bisa warning ke ponakan juga untuk tidak nonton film ini kak. Takut terinfluence sih

    BalasHapus
  10. Hmmm baiklaaah, kalau memang untuk usia 18+ ya gapapa sihya. Bahaya juga kalau ditonton sama anak2, apalagi kisahnya berlatar belakang di sekolah. Jadi related banget sama kehidupan anak2 sekolah memangg

    BalasHapus
  11. Hadeeh,, nanti terus viral, laku banyak yang nonton...kenapa juga ide cerita ga mendidik begini ya. Apa kehabisan kreativitas. Illfeel aku belum nonton juga. Fixed, ga usah ditonton anak remajaku ini, bisa ditiru huhuhu

    BalasHapus

Posting Komentar

Follow by Email